Monday, November 2, 2009

LONDON

Monday, November 2, 2009
carilah ilmu sampai ke ujung dunia sekalipun....

Salju masih saja turun, menindih pohon-pohon eru. Deretan rumah eropa berjejer sepanjang jalan. Lewat kaca jendela sorot mataku menelusuri jalan setapak tanpa ujung. Sejenak ku lirik gambar diriku yang terbingkai fas poto persis berada di sampimgku. Seolah ada magnet yang terus menarik perhatianku.
Lenganku mengelap kembali bulir-bulir keringat yang mengembun dikeningku. Otaku berfikir keras demi memecahkan satu kalimat yang ada di hadapanku. Sebuah kata yang berbahasa inggris – aku paling benci study ini.
Glek!..susah payah menelan ludah. Ku rapatkan kembali jaket hitam legam model pembalap motor sebab di luar hujan turun dengan derasnya. Perlahan biji mataku melirik segelas lemon yang belum sempat membasahi kerongkonganku. Kulupakan kembali dan pandanganku terpaku pada kalimat yang aneh
“ Don’t be lazy” begitulah tulisannya yang sama sekali aku tak memahaminya. Rangkaian huruf yang ditulis oleh jemari lincah milik bu shofie – begitulah murid-murid memanggilnya- guru bahasa inggris di sekolahku.
Bulu romaku menegang mengingat cercaan teman-teman sekelasku tadi siang. Aku dihukum berdiri satu jam pelajaran lantaran belum menyelesaikan tugas sekolah. Reputasiku hancur di mata mereka.
“ Ya tuhan aku harus gimana?” gigiku menjepit bibir bawah yang kering bak tanah musim kemarau. Raut mukaku pucat menggambarkan kecemasan “ Ya Allah…”. Sekali lagi ku sebut Asma-Nya mengalahkan deru hujan badai bulan desember. Lubuk hatiku resultan seiring bibir yang bergetar. Kurasakan hanya Dialah yang bisa menolongku. Pandanganku berkeliling mengitari seisi kamarku. Hanya tembok usang dan jam dinding ku temukan .
Uppps…jam tiga malam…bisikku kaget sambil menempelkan tangan ke dada. Degup jantungku seirama dengan detak jarum jam yang berjalan. Suara memekik bergema di dalam dada. Cepat-cepat jasadku mengumpat di balik selimut. Ku katupkan selaput mata demi berjumpa dengan mimpi indahku.

* * *

Teng…teng…teng “ dentang lonceng berbunyi tiga kali. Menandakan jam masuk kelas.
“Selamat pagi….” sapa bu Sofie memakai busana elegant, tidak jauh seperti aristokrat. “ hari ini kita ulangan” cetusnya tanpa rasa berdosa.
Gawat…pikirku bermuka meringis. Aku sudah menebak deretan pertanyaan. Salah satunya diberikan padaku. Harus gimana nih..sembunyi di balik punggung orang?. Bu Shofie hafal betul di mana tempat dudukku. Mengancam Edo untuk memberikan cotekan? Berarti aku harus mendekati tempat duduknya yang ada di barisan paling depan. Satu langkah saja…rentetan kalimat kasar menebakku bertubi-tubi.
Selang beberapa lama….
“Finish…?“ Tanya bu Shofie yang bernada setengah teriak.
“Finish…!!”. Jawab beberapa siswa.
“ Siapa yang ibu panggil harap untuk maju…”. Perintahnya.
“ Nomber one, Hendri” sambil mengancungkan spidol marker, bu shofi menunjuk hendri yang memang duduk paling depan.
Slamet,…slamet..aku mengelus dadaku. Tapi lambat laun aku juga dapat giliran, pikirku. Bola mataku lincah melirik buku sebelah kanan, kiri, depan, belakang…semuanya nihil. Sama seperti diriku. Glek..! susah payah aku menelan ludah.
“ OK. Please sit down “.
Beruntung banget si hendri. Coba aku….ahh…diakan pintar. Coba aku…?
“ Number two…ehmm…”.
Glek!!glek!! ya Tuhan lindungilah aku..!!! keringat dingin membanjiri tubuhku. Degup jantungku berlomba lari maraton.
“ Yadi! “ terlunjuknya tepat mengenai wajahku.
Mati aku! Susah sekali kaki ku gerakan. Seperti mau menerima hukum pancung.” Cepat…!!!” suaranya memekik bagai petir menyambar. Aku tersentak seperti tersengat petir. Seluruh tubuh bergetar. Dengan sekuat tenaga ku aynkan kaki walau terasa menyiksa. Namun siksaan lebih berat ku hadapi ketika memandang kalimat yang tak ku mengerti.
Aku memilih diam dan memnundukan kepala. Pasrah. Terserah apa lagi hukuman yang akan ku terima.
“ Yadi…”. Ku dengar langkah kakinya menghampiriku.
“ Ibu sudah bilang berkali-kali. Jangan malas!..tapi kamu..”.
Entah kenapa bu shopi tidak melanjutkan kata-katanya. Aku tak melihat apa-apa kecuali lantai berwarna putih.
“ setiap kali ibu menghukummu, bukannya ibu benci. Tapi supaya kamu mau belajar “. Jelasnya.

* * *

Masih ku dekap erat-erat fhotoku sewaktu lulus SMP, mengingatkan sepenggal kisah masa laluku. Lelehan air mata terus mengalir membasahi pipiku.
Bu Shopi , berkat jasamu aku berada di sini. Karena prestasiku, aku bisa belajar tanpa biaya. Hingga kini masih ku kejar cita-citaku di London.

0 comments:

Post a Comment

 
PernAk PerNik HidUpKoe. Design by Pocket