Showing posts with label cerpenku. Show all posts
Showing posts with label cerpenku. Show all posts

Thursday, January 21, 2010

Panggil Aku Fatimah " B "

Thursday, January 21, 2010
Lagu I believe I can fly milik R. Kally memekik dari handphoneku. Deborah. “ Reza…” suara lembut itu begitu lirih ku dengar. “ Temui aku sekarang juga. Penting. Aku menunggumu di taman faurmount dekat pohon willow, tempat biasa kita ketemu”. “ What’s going on, deb?ya…ya aku segera kesana”.belum sempat aku menjawab, plipsss…sejurus di seberang sana dia menutup telepon genggamnya. Tak ada kata-kata lain dalam perbincangan kami via telepon selain sebuah permohonan. Deborah Baldwin. Gadis yang tumbuh dalam kehidupan keluarga katolik, diam-diam lebih senang mendengarkan suara adzan dari arah mesjid yang satu-satunya berada di jantung Pensylpania, Philadelpia. Tak jarang Deborah membujukku menemaninya duduk di beranda mesjid hanya untuk mendengar lantunan adzan yang ia rasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya. Sampai suatu hari dia mengutarakan keinginannya untuk mengenal islam lebih jauh. Dari sinilah dimulai kedekatanku dengan Deborah melalui konsultasi seputar masalah islam untuk mencari jawaban atas keragu-raguannya selama ini. “ what a beautiful islam, reza”. Suatu hari dia ungkapkan kekagumannya itu. Ternyata perubahan Deborah akhir-akhir ini tak luput dari perhatian ayahnya. Walaupun Deborah belum sempat mengatakan kepada keluarganya untuk meninggalkan agama nenek moyangnya itu. Dan jelas sekali, suara penuh tekanan tadi sangat beralasan sekali bahwa Deborah masih di hantui rasa takut sampai sekarang, saat ini, ketika dia memintaku untuk menemuinya. Di taman Faurmount. Ku tengok jarum jam dinding yang mengarah ke angka lima petang. Inilah puncak salju membabi buta di luar sana, menggunungi jalan-jalan dan atap-atap rumah filadelfska, menumbuhkan perasaan malas warga philadelpia untuk keluar rumah. Kalau bukan karena permintaan Deborah, berat sekali kaki ini menapaki tumpukan –tumpukan salju yang siap menusuk sampai ke ubun-ubun kepala. Ku buka knop pintu rumah. Wushhh…seolah ada daya magnet yang menarik badai salju itu masuk ke seisi rumah. “Reza,jangan lupa mantelnya”. Madem Garcia pemilik rumah menyodorkan mantel coklat. “thank’s Mom. You very kind of me”. Aku sangat banyak berhutang budi pada Ibu angkatku ini. Suatu hari nanti akan ku balas semua kebaikan-kebaikanmu Nyonya. Hatiku berdesir. “Hati-hati Za,…salju kurang bersahabat sore ini”. Masih ku dengar teriakannya dalam gemuruh badai salju. * * * Memang betul apa yang di katakan Nyonya Garcia, salju sore ini begitu dingin tak kenal ampun menusuk tubuhku. tapi aku berusaha untuk terus berjalan menciptakan langkah seirama salju yang turun secara infrasonik karena kalah oleh gemuruh badainya. Ku rapatkan mantel hitam yang menyelimuti tubuhku. Namun tetap saja salju kian menusuk pori-pori kulitku. Aku tak boleh sesekali menghentikan langkahku dari terpaan badai ini. Kalau aku berhenti, berarti sama saja dengan memberi kesempatan kepada salju itu untuk membekukanku sampai mati. Karena ini merupakan pengalaman musim dingin di wilayah barat-tengah yang sudah tiga musim ku lewati. Tiga tahun yang lalu , beasiswa Unyamerika telah membawaku ke pintu gerbang temple, Philadelphia. Salah satu Universitas terbesar di Amerika Serikat yang berakreditas penuh dengan penyedia pendidik propesional terbesar di philadelpia. Aku mengenal Deborah karena kami mengambil jurusan yang sama. Hukum. Langit philadelpia masih terus saja mengamuk memuntahkan salju, menghujani sungai Delaware, menyelimuti gedung balai kota yang dibangun skyscraper, dan daun pohon-pohon maple dan elm pun gugur berjatuhan. Ku pandangi barisan toko etalase memasang close pada pintu kacanya pertanda “kami kedinginan”. Begitulah potret kota bersejarah ini antara september dan desember. Aku hanya ditemani temaram lampu yang berbaris memanjang di kawasan frontstreet. Tak ada kendaraan, tak ada orang lalu lalang, mereka terkunci di dalam rumah-rumahnya, terbius oleh mesin-mesin pemanas. Satu jam sudah aku berada di tengah badai berhibernasi dengan alam. Sungguh dingin yang membuncah. Bagaimana keadaan Deborah yang sedari tadi menungguku di tengah badai ini. Taman faurmount masih cukup jauh. Memerlukan waktu dua puluh menit yang di tempuh dengan berjalan kaki. Aku terus melintasi bekas bekas jalur-jalur kendaraan bermotor collowhill street, sebentar lagi aku akan sampai di lapangan parkir Benyamin Prangklin, kemudian perputakaan logam, free. Dan tibalah aku pada beberapa patung yang berbentuk relief –relief tentara. Itulah taman fourmount. Mataku meliar menjajahi hamparan taman patung-patung itu dan berhenti pada sosok gadis yang berdiri di dekat pohon willow. Begitu heroiknya berdiri di tengah terpaan badai, menantang angina redup dan tajam menyapu mukanya yang putih pualam, membiarkan gemercik salju putih yang melingkar-lingkar di bawah kaki Salvatore veragamonya. Dia menggunakan topi dari kulit beaver dan mantel hitam yang berbulu lembut pada bagian lehernya. Sungguh anggun. Dan semakin anggun ketika aku semakin mendekatinya. Kamu selalu terlihat cantik Deborah..aku hanya bisa berdecak dalam hati. “ Reza…”dia menghambur memeluk tubuhku begitu erat dalam tangisan pilu. “ Menangislah Deborah, keluarkan semua kesedihanmu sampai kamu benar-benar merasa tenang”. Ku usap rambut pirangnya dan perlahan dia melepaskan pelukannya. “ Za, aku harus pergi, go far away from here”. Deborah menghapus air mata di pipinya. “ Kenapa, Deb? Kenapa harus pergi?” “ Ayahku sudah mengetahui semuanya. Dia akan menarik aku dari temple dan akan memasukanku ke sekolah biarawati gravestone sialan itu”. Tangannya menunjuk kearah gedung yang menjulangkan salib diatasnya. “ Aku tidak mau jadi biarawati , za….aku tidak mau…aku harus meninggalkan philadelpia.”. Deborah sedikit muntab. “ Tenang Deb, kita akan selesaikan ini bersama-sama. Aku akan membantumu.” Aku takut kalau dia benar-benar akan pergi jauh dari philadelpia. Dari aku. “ Sudah cukup aku merepotkanmu dalam hal ini. What I do is gonna effect a lot of people, termasuk kamu, za”. “ Aku akan membantumu apapun yang terjadi, aku sayang kamu Deborah, aku…”. Kata itu tersekat dalam tebggorokan. Aku tak mampu melanjutkannya. Deborah hanya tersenyum. Dan senyuman itu seolah berkata aku tahu kau mencintaiku. Dan betul Deborah menjawabnya “ me to”. Sungguh. Dua kata itu mampu mengalahkan salju Desember sekalipun. Dan tiba-tiba saja tempat ini menghembuskan aroma syakura. Padahal yang ada hanyalah pohon willow tua. Begitulah pengaruh lima kata yang paling bertenaga “ cinta”. Di manapun dia akan tetap berpalet jingga. “ aku akan mengabarimu Za”. Senyum itu masih merekah di bibir merahnya. Kata-kata itu saja yang dia ucapkan di perpisahan kami. Kemudian dia berjalan dan masuk menuju Aston martin silvernya. “ Assalamualaikum”. Dia mengucapkan salam sebelum menutup pintu mobilnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena aku sadar akan kehilangan dia. Dan aku semakin yakin ketika Aston martin semakin jauh melaju ditelan badai.
* * *
Tepat sebelas bulan lalu, malam itu, kami duduk di resto city tavern dekat jendela yang menghadap pohon Elm dengan menu rosted dan wine sterling merlot. Indah. Itulah awal salju turun. Malam ini, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang anggun lewat email yang dia kirim padaku dalam bahasa Indonesia yang lugas sekali.

Untuk Yang kurindu
Reza fahlevi
Di Philadelpia
Reza.. Dalam setiap tidur dan zikirku saelalu ku panggil namamu berharap selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah, aku sehat dalam lindungan dan selimut kasih sayang-Nya. Mudah-mudahan kau pun demikian, walaupun musim dingin philadelpia tak pernah kenal ampun pada siapapun. semoga kita tetap di hujani rahmat dan ridhonya, di bukakan segala pintu kebaikan dan di jauhkan dari segala keburukan. Mungkin ucapan maaf yang pertama kali aku pinta dari mu. Entah berapa e mail yang kau kirim untukku, tak pernah aku balas. Aku tak ingin membuatmu khawatir dengan keadaanku, aku tak ingin mengabarimu ketika aku dalam keadaan yang pelik. Tapi itulah hidup, Za. Aku banyak belajar dari sana. Sampai mana kakiku akan melangkah , aku ikut. Sejauh mana badai akan membawa tubuhku aku pasrah. Reza... Sebelum perpisahan kita di pohon willow petang itu, aku rasa aku harus segera menentukan tujuan hidupku. Aku melangkah menuju mesjid itu dan mengumumkan keislamanku. Aku tak pernah lagi pulang ke rumah setelah pertemuan terakhir kita. Aku sudah berencana pergi jauh dari philadelpia. Passport sudah ku siapkan, tiket keberangkatan sudah ku pesan. Aku terbang meninggalkan tanah kelahiranku.

maaf cerpen ini belum selesai

Monday, November 2, 2009

LONDON

Monday, November 2, 2009
carilah ilmu sampai ke ujung dunia sekalipun....

Salju masih saja turun, menindih pohon-pohon eru. Deretan rumah eropa berjejer sepanjang jalan. Lewat kaca jendela sorot mataku menelusuri jalan setapak tanpa ujung. Sejenak ku lirik gambar diriku yang terbingkai fas poto persis berada di sampimgku. Seolah ada magnet yang terus menarik perhatianku.
Lenganku mengelap kembali bulir-bulir keringat yang mengembun dikeningku. Otaku berfikir keras demi memecahkan satu kalimat yang ada di hadapanku. Sebuah kata yang berbahasa inggris – aku paling benci study ini.
Glek!..susah payah menelan ludah. Ku rapatkan kembali jaket hitam legam model pembalap motor sebab di luar hujan turun dengan derasnya. Perlahan biji mataku melirik segelas lemon yang belum sempat membasahi kerongkonganku. Kulupakan kembali dan pandanganku terpaku pada kalimat yang aneh
“ Don’t be lazy” begitulah tulisannya yang sama sekali aku tak memahaminya. Rangkaian huruf yang ditulis oleh jemari lincah milik bu shofie – begitulah murid-murid memanggilnya- guru bahasa inggris di sekolahku.
Bulu romaku menegang mengingat cercaan teman-teman sekelasku tadi siang. Aku dihukum berdiri satu jam pelajaran lantaran belum menyelesaikan tugas sekolah. Reputasiku hancur di mata mereka.
“ Ya tuhan aku harus gimana?” gigiku menjepit bibir bawah yang kering bak tanah musim kemarau. Raut mukaku pucat menggambarkan kecemasan “ Ya Allah…”. Sekali lagi ku sebut Asma-Nya mengalahkan deru hujan badai bulan desember. Lubuk hatiku resultan seiring bibir yang bergetar. Kurasakan hanya Dialah yang bisa menolongku. Pandanganku berkeliling mengitari seisi kamarku. Hanya tembok usang dan jam dinding ku temukan .
Uppps…jam tiga malam…bisikku kaget sambil menempelkan tangan ke dada. Degup jantungku seirama dengan detak jarum jam yang berjalan. Suara memekik bergema di dalam dada. Cepat-cepat jasadku mengumpat di balik selimut. Ku katupkan selaput mata demi berjumpa dengan mimpi indahku.

* * *

Teng…teng…teng “ dentang lonceng berbunyi tiga kali. Menandakan jam masuk kelas.
“Selamat pagi….” sapa bu Sofie memakai busana elegant, tidak jauh seperti aristokrat. “ hari ini kita ulangan” cetusnya tanpa rasa berdosa.
Gawat…pikirku bermuka meringis. Aku sudah menebak deretan pertanyaan. Salah satunya diberikan padaku. Harus gimana nih..sembunyi di balik punggung orang?. Bu Shofie hafal betul di mana tempat dudukku. Mengancam Edo untuk memberikan cotekan? Berarti aku harus mendekati tempat duduknya yang ada di barisan paling depan. Satu langkah saja…rentetan kalimat kasar menebakku bertubi-tubi.
Selang beberapa lama….
“Finish…?“ Tanya bu Shofie yang bernada setengah teriak.
“Finish…!!”. Jawab beberapa siswa.
“ Siapa yang ibu panggil harap untuk maju…”. Perintahnya.
“ Nomber one, Hendri” sambil mengancungkan spidol marker, bu shofi menunjuk hendri yang memang duduk paling depan.
Slamet,…slamet..aku mengelus dadaku. Tapi lambat laun aku juga dapat giliran, pikirku. Bola mataku lincah melirik buku sebelah kanan, kiri, depan, belakang…semuanya nihil. Sama seperti diriku. Glek..! susah payah aku menelan ludah.
“ OK. Please sit down “.
Beruntung banget si hendri. Coba aku….ahh…diakan pintar. Coba aku…?
“ Number two…ehmm…”.
Glek!!glek!! ya Tuhan lindungilah aku..!!! keringat dingin membanjiri tubuhku. Degup jantungku berlomba lari maraton.
“ Yadi! “ terlunjuknya tepat mengenai wajahku.
Mati aku! Susah sekali kaki ku gerakan. Seperti mau menerima hukum pancung.” Cepat…!!!” suaranya memekik bagai petir menyambar. Aku tersentak seperti tersengat petir. Seluruh tubuh bergetar. Dengan sekuat tenaga ku aynkan kaki walau terasa menyiksa. Namun siksaan lebih berat ku hadapi ketika memandang kalimat yang tak ku mengerti.
Aku memilih diam dan memnundukan kepala. Pasrah. Terserah apa lagi hukuman yang akan ku terima.
“ Yadi…”. Ku dengar langkah kakinya menghampiriku.
“ Ibu sudah bilang berkali-kali. Jangan malas!..tapi kamu..”.
Entah kenapa bu shopi tidak melanjutkan kata-katanya. Aku tak melihat apa-apa kecuali lantai berwarna putih.
“ setiap kali ibu menghukummu, bukannya ibu benci. Tapi supaya kamu mau belajar “. Jelasnya.

* * *

Masih ku dekap erat-erat fhotoku sewaktu lulus SMP, mengingatkan sepenggal kisah masa laluku. Lelehan air mata terus mengalir membasahi pipiku.
Bu Shopi , berkat jasamu aku berada di sini. Karena prestasiku, aku bisa belajar tanpa biaya. Hingga kini masih ku kejar cita-citaku di London.

Monday, October 26, 2009

Goodby Dejavu

Monday, October 26, 2009
Oleh : Zi'e
Cerpen ini di dedikasikan untuk para calon Wisudawan Agustus
" keep up and never give up "
Malam pekat, 16 April 2009 , kubaringkan tubuhku dalam ranjang bersusun berharap imsomnia tidak akan datang lagi setelah malam ini. Masih ku pandangi skripsi yang dari tadi ku pegang erat, membayangkan hari esok yang menegangkan, besok aku harus mempertanggungjawabkan skripsi yang telah aku revisi beberapa kali di depan penguji. Bermacam antisipasi telah aku tata dalam menghadapi kemungkinan aku harus gulung tikar. Ku habiskan seluruh waktuku selama beberapa bulan terakhir ini untuk mempersiapkan sidang munakosah dengan belajar bersungguh-sungguh,mengasah otak, memeras keringat, meng-up grade memori-memori yang kian tumpul setiap hari sampai – sekali lagi aku menyebutkan penyakit terkutuk itu – imsomnia tak jarang menyergapku hampir setiap malam. Perasaan takut, gembira, gugup berbaur bergemuruh dalam ruang dadaku. Takut kalau seandainya kelulusan itu jauh di depan mata. Dan tangan tak mampu menjangkau mimpi-mimpi itu, yang ada hanya gigi yang memggigit bibir kelu. Apa yang nanti harus di tanggung kedua orang tuaku yang tujuh tahun lalu melepaskanku di pesantren ini dengan penuh linangan air mata? Kekecewaan pastinya. tapi ada seberkas kebahagiaan berputar-putar di kepalaku. Dengan separuh langkah lagi aku telah menyelesaikan studiku, merancang prospek dalam peta hidup yang matang utuk masa depan. Absolutely. Upps…. Peta hidup? Masa depan. Hey…berarti dengan kata lain aku sudah siap menjadi salah satu dari jutaan orang-orang muda yang berizasah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan. Itulah ketakutan yang kualami ketika mengingat bekerja. Mengingat pekerjaan tak mudah dicari seperti mencari ikan di lautan yang tiap hari para nelayan lakukan. Jelasnya, bahwa aku seperti halnya jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan republik ini belum bisa menampung orang-orang sepertiku. sekali lagi, sempit sekali lapangan kerja itu sobat.

Opsi kedua adalah terjun nekat dimasyarakat dengan kadar ilmu kita yang …ahh. Ini juga menguak rasa pesimisku yang menggrogotiku pelan-pelan. Apa yang mungkin ku capai dan ku sumbangkan bagi umat manusia dalam pemahaman dan keilmuan masih di bawah standaritas? apakah hidup ini pantas di jalani tanpa kemanfaatan bagi masyarakat ? sedangkan aku seorang strata satu sarjana hukum jebolan salah satu pesantren terbonafid di wilayah Bogor . Dilema, memang dilema.

Pikiranku sudah terlalu jauh menerawang mendobrak langit-langit kamarku, melewati asteroid dan ribuan meteor,melintasi zona yang paling teratas, menembus neptunus, dan menguap di sana . Sampai aku tak sadar hampir setengan dari malam aku berpetualang dalam khayalku. Sekarang sudah pukul 11.00 malam. Kulihat teman-temanku sudah terkapar dalam ranjang-ranjang susunnya, terhisap dalam dunia bawah sadar. Dan aku berusaha memejamkan kedua mataku, walau agak sedikit susah terjaga, akhirnya sayup-sayup hitam mulai melintas di mataku. Dan akupun tertidur.



* * *

Aku terperanjat kaget. Kemudian bangun, duduk terpaku seperti linglung. Aku baru sadar setelah jendela kamar ini menyelinapakan hawa duha dan jarum jam berteriak mengejekku “ lihat angka delapan. Dasar pemalas!!!”. Aku telah meninggalkan subuhku dan yang paling menggetarkan seluruh tubuh, aku terlambat untuk mengikuti sidang munaqosah. Tak ada satupun teman-temanku yang nampak di ruangan ini yang tiba-tiba terasa pengap bagiku. Kemana kalian pergi, mengapa tidak membangunkanku.

Dalam keadaan panik yang sungguh tak terperikan, aku segera mencuci muka tanpa memperdulikan odor tubuhku yang menghembuskan aroma hangus.dan pakaianpun begitu saja meleket sejadinya di tubuhku.

Ruang ujian yang tak lain adalah kelas kami, kampus kaca terletak cukup jauh dari kamarku, sehingga aku harus setengah berlari memompa jantungku agar tak terlambat. Dan di sana ku lihat ke empat belas temanku yang sudah duduk di kursi-kursi besi berbaris yang diletakan menghadap dua kursi dan satu meja diantara kedua kursi tersebut. Jika di lihat dari arah pintu luar dan jika dibayangkan apa yang terjadi dalam ruangan di balik pintu kaca ini, jarak antara kursi besi dan dua kursi yang berhadapan dengan meja diantaranya yang tak lain adalah singgasana Drs Karim Sudrajat MBA, pengujiku, dapat ku simpulkan bahwa ini adalah ruang bagi langkah-langkah terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum mati, sebab dalam ruangan itulah para akademis menggantung nasibnya.

Aku langsung masuk dan duduk pada kursi yang sudah disiapkan untukku diantara para calon wisudawan yang lain.

“ fauzul Adzim dengan nomor urut 08!” pendamping penguji itu memanggil namaku lewat walky talky yang dipegangnya. Aku mendapat kesempatan pertama untuk menduduki kursi listrik. Aku segera maju dan duduk di depan Drs Karim. Jarak kami kira-kira hanya satu meter dengan pemisah sebuah meja yang di penuhi tumpukan-tumpukan manuskrip.

Drs. Karim dengan seksama mengamatiku dari ujung rambut sampai bagian tubuhku yang tertutupi mejanya dalam keadaan duduk. Tak surut skeptis dalam pandangannya. Posisinya adalah pormasi yang jitu untuk mengaduk-aduk adrenalinku. Keringatpun keluar dari dahiku, ku usap keringatku agar aku tak terlihat gugup. Dan ku longgar-longgarkan dasiku yang kini rasanya mulai mencekik leherku.

“ kamu Fauzul Adzim?” dia mengambil skripsiku yang berada dipaling atas tumpukan mejanya. Kini tatapannya beralih pada kertas-kertas itu.

“ Iya Pak.” Aku sedikit mendongakan kepalaku berusaha menghilangkan ketegangan yang sedari tadi berkelebat dalam ruang dadaku. Ku tekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya.

Dia membolak-balikan lembar demi lembaran skripsiku. Matanya memicing skeptik, kedua ujung alisnya bertemu. Raut wajahnya menyerupai goresan-goresan pedang yang siap dihunuskan ke mataku. Dan ku lihat sisiran rambutnya yang kelimis oleh luluran tanco dipaksa untuk mengikuti gaya rusell crow “skizofrenik” dalam beautiful mind. Sungguh memperihatinkan, seorang magister yang sudah menjadi korban mode, ter-brainwash oleh kumkuman westernisasi yang tengah menjamur di bumi pertiwi ini, harus berjuang mati-matian melawan tuntutan idealisme. Sesekali dia mengangkat wajahnya seringai memancarkan sinyal “skiripsi apa ini. Rongsokan..!!.”.aku semakin khawatir ketika dia terus memperhatikan lembaran-lembaran pada bab pertama kemudian langsung membuka pada bab kesimpulan. Tak lama dia tutup lembaran-lembaran itu sambil menarik napas dalam-dalam.tak dinyana, dia membantingkanya tepat di depan wajahku.

“ skripsi kamu…” matanya terus menatap tajam bak singa bertemu mangsa “ di tolak !!!”. kata-katanya begitu getas meliuk-liuk telingaku.

“ Ma..maaf Pak?” Aku ingin memastikan apakah Drs Karim tidak sedang membual.

“ Ya… skripsi kamu tidak diterima”

“ ta…tapi, kenapa pak? Saya mampu mempresentasikan hasil penelitian saya ini.”

“Skripsi kamu ini sudah tidak jelas pemabatasan dan perumusan masalahnya. Tidak perlu kamu presentasikan!!” dia menaikan nada suaranya.

“ saya mohon pak. Beri saya kesemapatan “ aku tetap berusaha dalam keadaan tenang.

“ Penelitian yang kamu buat ini tidak jauh dari barang-barang yang ada dalam tong sampah. Coba lihat! tak ada korelasi judul yang kamu angkat dengan kesimpulannya. Ini yang kamu sebut skripsi”.Mudah sekali pekikan pahit itu keluar dari mulutnya. Dia tidak merasakan betapa penuh perjuangan ketika harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas itu, tetapi begitu mudah sekali bolpoint sialannya itu mencoret-coretnya.

“lebih baik kamu buat penelitian yang baru, yang lebih bermutu. Kalau seandainya tidak, ya….terpaksa kamu harus mundur sampai tahun depan”. Sepertinya pak karim sudah tidak punya toleran lagi. Dia sudah mengikis semua harapan-harapanku.

“ Pak,…saya mohon pak…”. Aku tidak tahu sudah keberapa kalinya aku memohon kepada Drs. Karim. Tapi tetap saja nihil. Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Sampai akhirnya dia memanggil dua orang laki-laki yang tiba-tiba masuk dari arah pintu dengan berseragam hijau lumut yang bertuliskan “ security” di bagian kiri dadanya. Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini, sejak kapan pondok pesantren ini menyewa dua polisi gadungan ini, melihatnya pun belum pernah. Dan tanpa basa basi, sekonyong-konyok dia mencidukku, memberondongku dari tempat dudukku ke luar ruangan. Karena tak mampu melawan kerasnya genggaman tangan security itu, Aku meronta, berteriak meminta tolong sejadinya. Tapi tak ada satupun teman-temanku yang peduli.mereka hanya diam mematung menyaksikan kekerdilanku.

“ tolong teman-teman, tolongin ana dong…,tolooong…..tolooong.”

Tiba-tiba terasa yang ada mengoyang-goyangkan tubuhku. Bukan kedua sekuriti itu, bukan juga teman-temanku yang dari tadi hanya memaku tubuhnya dalam kursi-kursi berbaris. Secara langsung, aku dapat merasakan tubuhku yang berevolusi dari dua tempat yang berbeda. Fuga? Ini bukan fuga.tapi semacam keadaan trance. Dan aku lebih yakin ketika setelah melihat sosok tubuh yang tak asing dalam sayup-sayup berdiri di sampingku dan tangannya memegang bahuku. Burhan.

“ Jul, bangun Jul! ”. suaranya mendobrak ruang pekat di kepalaku dimana aku yang terkunci dalam perangkap alam bawah sadar.ruangan kamar ini dan Burhan, temanku yang pertama kali aku lihat. Ku coba rangkaikan pecahan-pecahan memori dalam otakku, ku tepiskan sayup-sayup bias pada mataku. Dan ku simpulkan dalam dua buah kata, mimpi buruk.

“ Jul, kamu teriak-teriak tadi. Mimpi apaan sih?” burhan mengusap butir-butir keringat di dahiku.

“ Mimpi buruk mas Bur. Jam berapa sekarang mas?”. Aku bangun merenggangkan sendi-sendi dan ototku.

“ Jam empat kurang seperempat. Sebentar lagi adzan subuh. Tahajud dulu yuk. Biar agak tenang”. Burhan menghambur ke ruang tengah dan menggelar sajadahnya. Aku segera terdorong untuk mengambil air wudhu. Dan kemudian mengikuti tahajjud di belakangnya. Tak lama dentuman yaa hayyu yaa qoyyum menggema, merambah seantero pelosok pesantren. Membangunkan seluruh santri yang terlelap dalam buai mimpinya.

* * *

Pagi, 17 april 2006 , sinar mentari menyapa lewat jendelaku yang melukiskan pagi yang indah. Seindah perasaan hatiku saat ini. Ku kenakan pakaian terbaikku sepanjang masa, demi satu acara yang sangat penting, sidang monakosah, mimpiku yang hilang dalam lipatan-lipatan malam tadi. Semoga itu bukanlah dejavu. Dan telah ku tanamkan dalam diriku tujuh huruf yang paling esensial “ optimis” maka aku percaya semangat, tawakal, dan percaya diri dapat menaklukan apapun. Kulangkahkan kaki bismillahi tawakkaltu untuk meraih mimpi-mimpiku. Sidang munakosah menungguku. Ayah, ibu please pray for me.

Hujan Dan Kemerdekaan

Oleh : Faid

Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan prolog hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, kami bisa mencium aroma debu membasah, menyerap tetes demi tetes rombongan air dari langit. Sebuah aroma yang sangat kami suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagi kami, yang membuat hati kami selalu ingin berteriak “Merdeka…!! Merdeka…!!”

Waktu berlalu, Tuhan memang telah menulis skenario hidup kami, dengan memilih scene-scene tertentu yang harus kami perankan saat langit memberondong bumi dengan pelor-pelor hujan. Hujan selalu menjadi saksi bagi setiap adegan dimana kami hidupkan karakter penokohan kami. Yah, kamilah protogonis menurut versi kami, dan antagonis menurut mereka yang tidak menyukai kami. Kamilah aktor dan aktris yang selalu memerankan bagian terklimaks pada plot hidup saat hujan turun ke bumi. Singkat kata, hujan adalah background bagi setiap pergulatan kami.

Termasuk siang ini, aku dan makhluk cantik yang tomboy itu berada di sebuah salon tanpa pelanggan di samping SMU. Kami telah sepakat untuk merayakan kelulusan kami dengan mencukur habis kepala kami.



“Aan” itulah potongan nama Anika Aprilia yang sengaja ia pilih sebagai panggilannya. “Biar maskulin!” ujarnya suatu ketika. Kami bersahabat sejak Tuhan mentakdirkan kami untuk bertemu di kelas satu SMU. Biar kami bersahabat namun kami punya prinsip, “tak ada hari tanpa bertengkar”. Hampir dalam segala hal, Aan selalu meminta pendapat dariku dan hampir semua pendapat itu selalu ditolaknya mentah-mentah. Begitulah.

Tiga tahun kami diaduk oleh waktu dalam kawah candra dimuka pendidikan. Tiga tahun kami dijejali aksara-aksara pengetahuan. Kata mereka - yang biasa kami panggil ‘guru’ – itu semua sanggup merubah nasib kami. Tiga tahun kami kenyang dengan doktrin serta undang-undang. Dan hari ini, momen besar akan terjadi. Ijazah kelulusan bagi kami sesakti amnesti dari penguasa orde baru yang akan membebaskan kami dari ‘penjara’ ini. Dengan nilai yang tak sempat kami lirik, kami cukup puas. Kami lulus.

Hari ini, langit yang mendung seolah mengisyaratkan sesuatu. Perpisahan dilaksanakan di aula sekolah dengan acara yang tak lebih menarik dari hujan yang mulai turun satu persatu. Kamipun nekad tidak mengikuti acara seremonial yang mesti begini mesti begitu. Sebab nama kami tak mungkin disebutkan dalam urutan siswa berprestasi. Kami lebih memilih cubitan butir-butir hujan yang membawa aroma debu membasah yang dapat melahirkan jiwa baru kami untuk menyongsong kemerdekaan demi kemerdekaan sesusai pemahaman kami.

Di mata kami, hujan adalah kemerdekaan bagi butir-butir air yang seolah baru terbebas setelah bertahun-tahun terpenjara di bui angkasa. Petir adalah kemerdekaan bagi cahaya maha cepat untuk beraksi seenaknya, mencari perhatian manusia, menebang pohon dan merusak hutan tanpa harus menjadi buronan karena kasus illegal logging. Desir angin adalah kemerdekaan bagi udara yang berlari-lari saling kejar, seperti bocah kecil yang riang bermain gobag sodor. Semua adalah bagian dari kemerdekaan yang menjadi buruan hidup kami. Kami selalu ingin merdeka, termasuk merdeka dari tuntutan peraturan dan batasan-batasan.



Rio… lihatlah!! Hari ini kita temukan dua kemerdekaan; kemerdekaan dari keharusan menyisir rambut dan kemerdekaan dari gerbang sekolah” teriak Aan parau di tengah lapangan bola sekolah kami. Sore itu, semua guru, siswa dan wali siswa telah pulang. Acara perpisahan selesai. Sekolah sepi, namun gerbang belum terkunci. Kami menyelinap masuk untuk sekedar melambaikan tangan tanda perpisahan dengan beberapa lokal bangunan yang di mata kami selama ini selalu terlihat seperti jeruji besi. Butir-butir hujan membersihkan kepala botak kami dari sisa-sisa potongan rambut. Tangan kami terlentang, kepala kami tengadah seperti turut merayakan kemerdekaan hujan dari penjara angkasa. Sementara hati kami tak henti meneriakkan mars tanpa irama “merdeka..!! merdeka..!!”

Tapi tiba-tiba kurasakan sebuah keheranan yang luar biasa, layaknya seorang ibu yang melihat bayinya lahir dengan jari tak sempurna. Aku melihat mata bulat Aan keruh, berkaca-kaca dan wajahnya kian memerah. Hari ini adalah kali pertama telingaku mendengar isak dari seorang tomboy yang tak pernah kulihat sebagai seorang wanita ini.

“Tapi Rio…” air mukanya naik turun “Hari ini pula aku akan kehilangan buruan hidup kita selama ini” hening sejenak “aku akan kehilangan seluruh kemerdekaanku…” tangis keras pun pecah. Rombongan bangau melintas, seolah mengajak kami untuk turut menikmati kebebasannya. Angin bertiup seolah protes dengan ‘teks proklamasi kemerdekaan’ kami yang tiba-tiba dihentikan pembacaannya oleh takdir. Sunyi memeluk persahabatan kami yang seolah dipaksa beku oleh nasib.

“Kamu bicara apa sih, An..?” tanyaku penuh curiga. Aan menunduk “Hari ini aku akan terpenjara di sebuah bui, dimana setiap yang kulihat adalah batasan dan semua yang aku temui adalah peraturan”.

“Maksudmu?” selidikku tak mengerti. “Ayahku… ayahku Rio, kau tahu kan, seperti apa ayahku?” aku mengangguk pelan, “kemarin ayahku bilang, cuma pesantren yang bisa menghentikan kenakalanku. Ayah akan memasukkanku ke pesantren Rio!!” “Hah!! Kamu bercanda kan An?!” “Maaf Rio, aku lagi nggak ada mood buat bercanda” “T...tapi…” ucapku terhenti “sudahlah Rio, aku anak tunggal, akulah satu-satunya yang dapat diandalkan orang tuaku” “lantas kamu tinggalin aku sendirian, begitu?!” wajah Aan semakin memerah, lalu tiba-tiba membentak “Aku juga masih ingin selalu bisa menjitak kepala botakmu itu Rio, tapi gimana lagi…?!” Aan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Tapi mengapa sebelumnya kau nggak pernah cerita An?” tanyaku sewot. Perasaanku campur aduk. “Aku hanya nggak mau kau ikut bersedih” jawabnya tak kalah sewot. “Tapi kan kamu bisa menolak ide gila ayahmu itu?” “Ini bukan ide Rio, ini pilihan wajib!” “An…” sampai di sini suaraku terhenti. Aku tak punya ide untuk mengucapkam sesuatu. Aku hanya bisa membayangkan sahabat yang tak pernah kuanggap sebagai seorang wanita itu akan jauh dariku.

Aku akan terpisah dari patner bolos sekolahku. Aku akan rindu dengan kenakalannya, aku akan kangen dengan kebadungannya, aku akan kesepian dengan ide-ide jailnya, aku akan sangat kehilangan seorang yang selalu meminta sekaligus menolak pendapatku mentah-mentah.

Aan menjatuhkan badannya, setelah seluruh bangunan ‘prasasti kemerdekaan’ di hatinya terlebih dahulu luluh lantak. Di atas lapangan hijau yang basah ia duduk dan memeluk kedua lututnya. Kulihat tangan Aan meremas rumput hijau tak berdosa. Lalu mencabut dan melempar sekenanya. “Di pesantren mana An?” suaraku kini merendah, bergetar memecah diam. “Jawa Timur” Aan menghela nafas, aku masih terperangah “bermimpipun aku tak pernah Rio…” tangisnya kembali pecah. Aan yang dulu kukira tak punya air mata kini menangis kencang sekali. Sebentar lagi siswi SMU yang belum hafal rukun wudlu ini akan tersungkur di pojok masjid pesantren mengeja alif, ba, ta agama. Berpisah dengan teman-temannya, sekaligus berpisah dengan kemerdekaannya. Aku tak bisa bergerak. Deretan bangunan kelas tanpa siswa tampak condong seperti turut merasakan kepedihan ini. Pohon beringin terlihat keriput pucat pasi seperti juga tersayat sembilu waktu. Sementara petir masih menyambar-nyambar di angkasa tak tahu marah pada siapa.



Setahun berlalu.

Sore ini aku berdiri di depan jendela kamarku yang kubuka lebar-lebar, bukan sekedar untuk menanti turunnya hujan, namun juga untuk membaca surat. Sebuah surat yang tak lain kuterima dari Aan, mantan sahabat semasa SMU ku yang tak lagi ku ingat berapa kali orang tuanya dipanggil pihak sekolah karena hobi bolosnya. Dialah satu-satunya manusia yang kini telah membuatku paham makna sebenarnya dari kata ‘rindu’.

“Assalamu ‘alaikum…Rio apa kabar? Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu, sehingga setiap waktumu adalah kesempatan untuk kata perbaikan. Rio, sejak sore di lapangan sekolah kita setahun yang lalu, aku semakin suka melihat hujan. Bahkan aku ingin menjadi hujan yang seolah mendapat ‘remisi’ dari bui angkasa. Tapi sayang, ayahku membangunkanku dari mimpi indah tentang sebuah kemerdekaan. Aku dipaksa masuk dalam koridor keterjajahan. Aku merana.

Namun, seorang pria bersorban telah mengajariku bagaimana cara bermimpi. Bagaimana cara meneropong kemerdekaan dari titik yang tepat, sehingga aku dapat melihatnya secara utuh. Aku jadi tahu kemerdekaan bukanlah sinonim dari kata kebebasan. Namun justru kemerdekaan adalah batasan, maksudku batasan logis untuk sebuah ekspresi, sebab setiap manusia punya hari depan. Apa yang kita lakukan hari ini, adalah torehan tinta, dimana lukisan dalam bentuk sempurna akan terlihat di kanvas masa depan. Sehingga hanya dengan kemerdekaan untuk berjuang melawan serdadu nafsu, lukisan itu akan terjaga dari noktah-noktah pencemarannya.

Rio sahabatku, lalu oleh beliau, aku dididik untuk tidak sekedar memotret mimpiku, namun juga meng’afdruk’nya. Aku paham.

Rio, beliau mengajarkan bahwa hidup dalam segala aspeknya adalah gerakan menuju perubahan. Dan kalau bukan karena aku tak lagi sanggup menghitung keriput yang ada di wajah ayah, maka aku tak akan pernah sempat belajar untuk berubah. Kalau bukan karena aku tak lagi tahu jumlah helai uban yang ada di kepala ibuku, maka secuilpun aku tak akan bergeser dari kebiasaanku dulu. Dan jikalau bukan lantaran aku ingin membuat mereka berseri, maka sedikitpun aku tak sudi untuk mengantri lama demi mendapat jatah nasi di tempat ini.

Rio, hari ini Aan telah mati dan lahirlah Anika Aprilia, yang juga masih selalu ingin merdeka. Aku masih suka hujan, bahkan aku ingin menjadi hujan. Tapi aku punya definisi baru tantang hujan dan sejumlah prolognya. Bagiku kini, hujan adalah garis start dimana secara mental aku berevolusi dari buta menjadi bermata, seperti butir hujan yang kadang turun tiba-tiba, melesat cepat karena faham bahwa terlalu banyak tanah gersang di bumi yang perlu segera disirami. Petir adalah dentuman semangat yang membuatku siuman dari ketidaksadaran purba, sehingga aku mengerti bahwa putus asa hanyalah hak mereka yang jauh dari Tuhannya. Desir angin adalah himne bersyair janji, yang membangun kepercayaan kita, bahwa seremeh apapun yang kita lakukan saat ini, bisa saja menjelma menjadi hal luar biasa di kemudian hari.

Awan hitam adalah foto-foto ketersesatan kita saat memaknai arti sebuah kemerdekaan. Sementara debu membasah adalah gambaran jiwaku yang dulu kerontang, namun kini membasah, menjadi sejuk, menjadi segar. Rio, beruntung sekali aku telah menemukan betapa sempitnya pemahaman kemerdekaanku dulu pada keluasan ilmu pria bersorban itu. Guruku.

Rio sahabatku, mulai saat ini, panggil aku Ika! Dan aku bukan muhrimmu. Merdeka…!! Wassalam…”

Petir meledak tiba-tiba. Aku kembali merasakan heran yang luar biasa, sama seperti saat kulihat Aan menangis pada kali yang pertama. Kuraih foto yang terpajang di atas meja kamarku. Foto Aan yang diam-diam kuambil dua tahun yang lalu saat ia panjat pohon mangga di samping rumahku.

Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan 'prolog' hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, aku bisa mencium aroma debu membasah. Sebuah aroma yang sangat aku suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagiku, meski kini seolah memiliki makna yang baru. Asing, aku belum begitu mengenalnya. Kulirik foto Aan. Lalu kulihat ia turun dan memakai mukena, berjalan pelan dan menunduk menenteng sajadah merah. Ini adalah pertama kalinya secara virtual aku melihat Aan ia sebagai seorang wanita. Dan hujan hari ini, telah mengajarkanku betapa selama ini aku keliru dalam memaknai kemerdekaan.

Selesai

Tuesday, September 15, 2009

Secangkir Kopi O Suam Untuk Atu Yusuf

Tuesday, September 15, 2009
Kedai makan Emakku tak pernah sepi oleh pembeli. Selalunya ramai setiap hari. Apalagi kalau musim liburan sekolah dan cuti para pekerja datang, Emakku tak pernah punya waktu luang untuk beristirahat karena pembeli tidak henti-hentinya silih berganti berdatangan. Terkadang Emak kelabakan karena tak ada yang membantu. Sesekali terdengar teriakan Emak dari arah kedai “ Iman, sini! Bantulah Emak ni”. Akulah satu-satunya yang Emak andalkan. Pagi-pagi buta sudah harus membuka kedai, merapihkan meja dan kursi, dan menyiapkan segala yang Emak butuhkan. Karena terlambat sedikit saja, para pelanggan lenggang mencari kedai lain.
Negri Selangor sangat khas dengan nasi lemaknya, dan nasi lemak yang paling terkenal lezatnya yaitu di kawasan Pandan Indah yang merupakan jantung negri selangor. Di situlah kedai makan Emakku berada. Di tengah hiruk pikuknya manusia mulai memburu nasib mengejar hidup di pagi hari. Banyak mereka yang sengaja singgah hanya untuk menikmati nasi lemak racikan Emakku. Karena selain tempatnya strategis, nasi lemak buatan Emakku berbeda dengan nasi lemak yang di jual di tempat lain. Begitulah pengakuan sebagian orang banyak. Bahkan kedai-kedai mama yang menjual roti canai isi kari ayam, nasi kerabu, laksa, nasi briyani, tomyam melayu dan termasuk nasi lemak tak mampu menyihir orang yang tinggal di plat India yang letaknya cukup jauh dari komplek Pandan Indah. Padahal mereka harus berjuang melawan berbagai aroma masakan dari arah restoran mama ketika mereka melewatinya menuju kedai Emakku. Tetapi selalu ada kaum minoritas di balik semuanya. Sekian banyak dari para penikmat nasi lemak Emakku, ada juga sebagian dari mereka yang duduk-duduk di kedai saja sambil menikmati secangkir kopi, mengobrol, terbahak-bahak tertawa karena sesuatu yang mereka anggap lucu bukan karena apa yang mereka obrolkan tetapi bagaimana cara mereka mengkomunikasikannya.
Itulah subetnik yang ada di sekelilingku. Atu Yusuf yang aku kenal diantara mereka. Kakek tua yang selalu mengayuh kakinya setiap pagi demi menikmati secangkir kopi di kedai Emak. Masih tetap gagah walaupun usia menenggelamkannya. Rambut uban yang menghiasi kepalanya tidak pernah menggoyahkan langkah-langkahnya. Dan terlihat penampilanya yang casual menunjukan bahwa dia adalah seorang Elthon John yang menyanyikan “ I want love” untuk wanita-wanita melayu. Idealis memang. Lebih idealis untuk seorang Anak muda. Atu Yusuflah berjiwa anak muda yang terperangkap dalam tubuh Kakek tua. Ada yang paling aku suka dari pribadinya. Humoris. Gelak tawa yang membuatku terpancing untuk ikut tertawa. Jelasnya,dia piawai sekali dalam berbicara. Pembicaraan yang seru. Tetapi masih dalam satu tema. Yaitu bercerita. Setiap kali ia duduk di kedai ada saja yang ia ceritakan padaku.“ Awak tak tau ke, Atu ni dulu pelakon terkenal. P. Ramlee yang pak belalang tu kawan atu dulu”. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala saja tanda setuju.
Pagi ini tetap sama seperti kemarin. Ribuan burung gagak bertengger di batang pokok angsana berkoak bersahutan, para siswa darjah satu sampai enam yang menunggu bis jemputan sekolah, para pekerja yang berdesakan di transit rapid KL, KLCC yang menjulang kokoh berselimut mentari pagi, hilir mudik taksi tempatan, semuanya menciptakan irama kehidupan Negri Selangor Pandan Indah yang tak pernah sepi. Semunya masih tetap sama. Seperti Atu Yusuf yang datang hari ini ke Kedai. Lenggang kaki sepatu pantopelnya, baju askar yang selalu menempel di tubuhnya, rokok salem yang tak pernah lepas dari mulutnya, menjadi pemandangan yang tak asing bagiku. Sambil duduk berpangku kaki dia mulai mengetuk-ketukan jarinya di atas meja. Tak lama kemudian Atu melambaikan tangannya. “Hoi…! Macam mana kabar semuanye pagi ni.”atu menyapa semua orang yang ada di kedai. Kami hanya tersenyum, sebagian ada yang acuh dan menggelengkan kepala.Dan tak lama dia mengangkat tangan kedua kalinya, menyatukan ujung ibu jari dan telunjuk sehingga membentuk huruf O. dan memanggilku. “ Iman, macam biasa ya”. Matanya berkedip sambil tersenyum manis. Begitulah jika ia memesan kopi. Kopi O suam. Kopi hangat tanpa susu. Aku segera mengantar kopi pavoritnya itu ke meja di mana ia duduk. “ Atu pesan ini ke ?”. Aku menarik punggung kursi yang menghadap kearahnya. Kemudian duduk menemaninya. “ budak pandailah kau ni. Tanpa Atu cakap nak pesan apa, kau dah hantarkan kopi ni ”.dia mengaduk kopi yang aku buat dan meneguknya layaknya segelas air putih. Kemudian kembali menyalakan rokok salemnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia menahannya di dalam dada. Seolah ada nikmat yang maha dahsyat. Aku yakin jika dirontgen maka rongga dadanya dan seluruh isinya berwarna hitam. Kakek ini cerdik juga pintar bukan hanya bercerita. Tapi aku tak habis pikir bagaimana dia bisa tertipu dalam persoalan rokok ini. Dan tak lama dia hembuskan asap rokok tadi.
“ hari ini atu punya cerita yang bagus. Kau mau dengarkan kisah tentang abu nawas tidak ?” “ ya…ya.Atu. saya mau sekali”. Aku sangat bersemangat setiap kali dia mulai bercerita. Ini akan menambah properti kamus wawasanku yang mungkin nanti aku wariskan kepada anak cucuku.Akhirnya atu yusuf mulai bercerita. Mengukir mozaik kata dalam memoriku, membuka kotak khayalku sehingga semuanya begitu deskriptif. Cerita abu nawas bukan baru pertama kali ini aku dengar. Berbeda sekali ketika atu Yusuf yang menceritakannya. “ Abu Nawas bingung bagaimana caranya untuk bisa menangkap angin. Dan dia juga bingung bagaimana cara dia membuktikan kepada raja bahwa yang dia tangkap adalah angin”. Intonasinya begitu pasti. Pelan penuh penghayatan. Memaku tubuhku yang rasa pukau mendengarkan cerita. “ Akhirnya Abu Nawas mendapat petunjuk, dan dia putuskan untuk menemui Raja keesokan harinya”. Aku begitu khidmat mendengarkan bait demi bait kata yang dia ucapkan pada klimaks cerita. Aku tersihir oleh aura linguistik yang keluar dari baham kakek tua itu. Dan seperti biasa, ending cerita yang membuat aku tertawa terpingkal berhasil dia lakukan. Atu pun sudah tak bisa lagi menahan tawanya. Beliau terpingkal-pingkal tertawa sampai keluar air matanya. Makin lama tawanya makin keras sekali. Kami sering sekali tenggelam dalam tawa. “
tak terasa matahari sudah berada pada tonggaknya. Panas terik merambah membakar seantero jagat Negri menara kembar. Atu bangkit dari duduknya . Pertanda waktu kunjungnya sudah habis. Dia merogo kantong celananya. Mengambil uang dua ringgit dari dompet lusuhnya dan menaruhnya di bawah cankir kopi. “ kembalilah ke sini besok. Saya ingin mendengarkan cerita Atu yang lainya. Atu nggak usah khawatir deh nanti saya buatkan kopi spesial buat atu. Gratis lagi.” “ Ye ke ?”. “ Ya, betul. Iman janji deh”. Dia berjalan meninggalkan kedai. Langkah demi langkahnya ku pandangi sampai bayangannya berbaur dengan fatamorgana. Seperti layaknya angin, Atu Yusuf hilang dari pandangan.
* * *
Ku pandangi ujung jalan yang biasa atu yusuf lewati. Sudah dua jam berlalu dari jadwalnya, atu yusuf belum muncul juga. Tak biasanya dia molor hari ini. Aku tahu benar dia tipikal orang yang tidak akan menelan ludahnya sendiri. Teman-teman duduknya sudah berkumpul di kedai Emak seperti biasa. Hanya atu yusuf saja yang belum nampak di antara mereka. Apa mungkin ada yang lebih penting yang harus dia kerjakan hari ini?.ku hilangkan semua keraguan yang berkelebat dalam pikiranku. Ku dekati teman-temannya.“pak cik, kenapa atu’ Yusuf tidak kelihatan hari ini?”. Aku bertanya kepada Pak Cik Mansyur salah satu teman berkumpul Atu Yusuf.“ memangnya kamu belum tau man. Dia sedang sakit sekarang. Kemarin Sepulang dari sini para tetangga melihat dia terjatuh pingsan di depan pintu rumahnya. Kasihan kakek tua itu”. Aku sangat kaget mendengarnya. Tidak pernah aku melihat atu’ Yusuf mengeluh. Apalagi soal sakit.“ Sakit apa dia pak cik ?”. “tak tau sakit apa Atu Yusuf tuh. Kata tetangga yang mememukannya kemarin, dari mulutnya keluar darah banyak sekali.kasian Atu Yusuf”. Sekali lagi pak cik Mansyur hanya bisa mengiba saja.Ternyata rongga paru-paru atu yusuf sudah tidak mampu lagi berjuang melawan asap rokok yang bersarang di dalam dadanya dan asap sialan itu telah mengumumkan bahwa dialah pemenangnya sekarang. Aku putuskan untuk untuk melihat keadaan kakek malang itu sekarang sambil membawa segelas kopi yang sudah aku janjikan kemarin. Aku melewati satu-satunya jalan yang menghubungkan kedai Emakku dengan rumah Atu Yusuf. Sampai tibalah aku di sebuah pintu tua yang di lapisi terali besi. Kemudian ku masuki ruangan kamar tiga setengah kali empat meter persegi yang klaustrofobis. Hening tak bergeming. Masih ku pegang erat secangkir kopi untuknya. Beberapa orang pun ada di sana menyaksikan kakek tua yang tertidur membaring membeku dalam ranjangnya. Kedua pelupuk matanya tertutup rapat. Kedua tangannya melipat ke dadanya.Sehelai kain kafan siap di tutupkan ke wajahnya. Aku segera mengerti bahwa aku sudah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Ia meninggal. Kakek tua itu sudah menutup buku ceritanya. Menghapus sejarah hitam putihnya. Sekarang kakek tua itu hanya tinggal cerita yang meninggalkan ribuan cerita. Tak ada lagi langkah-langkah kokoh yang selalu menapaki jalan berduri penuh liku, tak ada lagi tawa riang penuh Simfoni, tak ada lagi secangkir kopi hangat untuk dinikmati. Semuanya hanya tinggal kenangan di pagi hari. Kuletakan secangkir kopi O suam di atas meja di samping di mana ia berbaring. Masih hangat. Sehangat sinar mentari yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang menyinari wajahnya yang pucat pasi. Tapi tersenyum.
Cerpen ini saya persembahkan untuk keluarga di malaysia Saya rindu kalian berdua Saya rindu selangor
 
PernAk PerNik HidUpKoe. Design by Pocket