Thursday, January 21, 2010
Panggil Aku Fatimah " B "
* * *
Tepat sebelas bulan lalu, malam itu, kami duduk di resto city tavern dekat jendela yang menghadap pohon Elm dengan menu rosted dan wine sterling merlot. Indah. Itulah awal salju turun. Malam ini, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang anggun lewat email yang dia kirim padaku dalam bahasa Indonesia yang lugas sekali.
Untuk Yang kurindu
Reza fahlevi
Di Philadelpia
Reza.. Dalam setiap tidur dan zikirku saelalu ku panggil namamu berharap selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah, aku sehat dalam lindungan dan selimut kasih sayang-Nya. Mudah-mudahan kau pun demikian, walaupun musim dingin philadelpia tak pernah kenal ampun pada siapapun. semoga kita tetap di hujani rahmat dan ridhonya, di bukakan segala pintu kebaikan dan di jauhkan dari segala keburukan. Mungkin ucapan maaf yang pertama kali aku pinta dari mu. Entah berapa e mail yang kau kirim untukku, tak pernah aku balas. Aku tak ingin membuatmu khawatir dengan keadaanku, aku tak ingin mengabarimu ketika aku dalam keadaan yang pelik. Tapi itulah hidup, Za. Aku banyak belajar dari sana. Sampai mana kakiku akan melangkah , aku ikut. Sejauh mana badai akan membawa tubuhku aku pasrah. Reza... Sebelum perpisahan kita di pohon willow petang itu, aku rasa aku harus segera menentukan tujuan hidupku. Aku melangkah menuju mesjid itu dan mengumumkan keislamanku. Aku tak pernah lagi pulang ke rumah setelah pertemuan terakhir kita. Aku sudah berencana pergi jauh dari philadelpia. Passport sudah ku siapkan, tiket keberangkatan sudah ku pesan. Aku terbang meninggalkan tanah kelahiranku.
maaf cerpen ini belum selesai
Monday, November 2, 2009
LONDON
Salju masih saja turun, menindih pohon-pohon eru. Deretan rumah eropa berjejer sepanjang jalan. Lewat kaca jendela sorot mataku menelusuri jalan setapak tanpa ujung. Sejenak ku lirik gambar diriku yang terbingkai fas poto persis berada di sampimgku. Seolah ada magnet yang terus menarik perhatianku.
Lenganku mengelap kembali bulir-bulir keringat yang mengembun dikeningku. Otaku berfikir keras demi memecahkan satu kalimat yang ada di hadapanku. Sebuah kata yang berbahasa inggris – aku paling benci study ini.
Glek!..susah payah menelan ludah. Ku rapatkan kembali jaket hitam legam model pembalap motor sebab di luar hujan turun dengan derasnya. Perlahan biji mataku melirik segelas lemon yang belum sempat membasahi kerongkonganku. Kulupakan kembali dan pandanganku terpaku pada kalimat yang aneh
“ Don’t be lazy” begitulah tulisannya yang sama sekali aku tak memahaminya. Rangkaian huruf yang ditulis oleh jemari lincah milik bu shofie – begitulah murid-murid memanggilnya- guru bahasa inggris di sekolahku.
Bulu romaku menegang mengingat cercaan teman-teman sekelasku tadi siang. Aku dihukum berdiri satu jam pelajaran lantaran belum menyelesaikan tugas sekolah. Reputasiku hancur di mata mereka.
“ Ya tuhan aku harus gimana?” gigiku menjepit bibir bawah yang kering bak tanah musim kemarau. Raut mukaku pucat menggambarkan kecemasan “ Ya Allah…”. Sekali lagi ku sebut Asma-Nya mengalahkan deru hujan badai bulan desember. Lubuk hatiku resultan seiring bibir yang bergetar. Kurasakan hanya Dialah yang bisa menolongku. Pandanganku berkeliling mengitari seisi kamarku. Hanya tembok usang dan jam dinding ku temukan .
Uppps…jam tiga malam…bisikku kaget sambil menempelkan tangan ke dada. Degup jantungku seirama dengan detak jarum jam yang berjalan. Suara memekik bergema di dalam dada. Cepat-cepat jasadku mengumpat di balik selimut. Ku katupkan selaput mata demi berjumpa dengan mimpi indahku.
* * *
Teng…teng…teng “ dentang lonceng berbunyi tiga kali. Menandakan jam masuk kelas.
“Selamat pagi….” sapa bu Sofie memakai busana elegant, tidak jauh seperti aristokrat. “ hari ini kita ulangan” cetusnya tanpa rasa berdosa.
Gawat…pikirku bermuka meringis. Aku sudah menebak deretan pertanyaan. Salah satunya diberikan padaku. Harus gimana nih..sembunyi di balik punggung orang?. Bu Shofie hafal betul di mana tempat dudukku. Mengancam Edo untuk memberikan cotekan? Berarti aku harus mendekati tempat duduknya yang ada di barisan paling depan. Satu langkah saja…rentetan kalimat kasar menebakku bertubi-tubi.
Selang beberapa lama….
“Finish…?“ Tanya bu Shofie yang bernada setengah teriak.
“Finish…!!”. Jawab beberapa siswa.
“ Siapa yang ibu panggil harap untuk maju…”. Perintahnya.
“ Nomber one, Hendri” sambil mengancungkan spidol marker, bu shofi menunjuk hendri yang memang duduk paling depan.
Slamet,…slamet..aku mengelus dadaku. Tapi lambat laun aku juga dapat giliran, pikirku. Bola mataku lincah melirik buku sebelah kanan, kiri, depan, belakang…semuanya nihil. Sama seperti diriku. Glek..! susah payah aku menelan ludah.
“ OK. Please sit down “.
Beruntung banget si hendri. Coba aku….ahh…diakan pintar. Coba aku…?
“ Number two…ehmm…”.
Glek!!glek!! ya Tuhan lindungilah aku..!!! keringat dingin membanjiri tubuhku. Degup jantungku berlomba lari maraton.
“ Yadi! “ terlunjuknya tepat mengenai wajahku.
Mati aku! Susah sekali kaki ku gerakan. Seperti mau menerima hukum pancung.” Cepat…!!!” suaranya memekik bagai petir menyambar. Aku tersentak seperti tersengat petir. Seluruh tubuh bergetar. Dengan sekuat tenaga ku aynkan kaki walau terasa menyiksa. Namun siksaan lebih berat ku hadapi ketika memandang kalimat yang tak ku mengerti.
Aku memilih diam dan memnundukan kepala. Pasrah. Terserah apa lagi hukuman yang akan ku terima.
“ Yadi…”. Ku dengar langkah kakinya menghampiriku.
“ Ibu sudah bilang berkali-kali. Jangan malas!..tapi kamu..”.
Entah kenapa bu shopi tidak melanjutkan kata-katanya. Aku tak melihat apa-apa kecuali lantai berwarna putih.
“ setiap kali ibu menghukummu, bukannya ibu benci. Tapi supaya kamu mau belajar “. Jelasnya.
* * *
Masih ku dekap erat-erat fhotoku sewaktu lulus SMP, mengingatkan sepenggal kisah masa laluku. Lelehan air mata terus mengalir membasahi pipiku.
Bu Shopi , berkat jasamu aku berada di sini. Karena prestasiku, aku bisa belajar tanpa biaya. Hingga kini masih ku kejar cita-citaku di London.
Monday, October 26, 2009
Goodby Dejavu
Cerpen ini di dedikasikan untuk para calon Wisudawan Agustus
" keep up and never give up "
Malam pekat, 16 April 2009 , kubaringkan tubuhku dalam ranjang bersusun berharap imsomnia tidak akan datang lagi setelah malam ini. Masih ku pandangi skripsi yang dari tadi ku pegang erat, membayangkan hari esok yang menegangkan, besok aku harus mempertanggungjawabkan skripsi yang telah aku revisi beberapa kali di depan penguji. Bermacam antisipasi telah aku tata dalam menghadapi kemungkinan aku harus gulung tikar. Ku habiskan seluruh waktuku selama beberapa bulan terakhir ini untuk mempersiapkan sidang munakosah dengan belajar bersungguh-sungguh,mengasah otak, memeras keringat, meng-up grade memori-memori yang kian tumpul setiap hari sampai – sekali lagi aku menyebutkan penyakit terkutuk itu – imsomnia tak jarang menyergapku hampir setiap malam. Perasaan takut, gembira, gugup berbaur bergemuruh dalam ruang dadaku. Takut kalau seandainya kelulusan itu jauh di depan mata. Dan tangan tak mampu menjangkau mimpi-mimpi itu, yang ada hanya gigi yang memggigit bibir kelu. Apa yang nanti harus di tanggung kedua orang tuaku yang tujuh tahun lalu melepaskanku di pesantren ini dengan penuh linangan air mata? Kekecewaan pastinya. tapi ada seberkas kebahagiaan berputar-putar di kepalaku. Dengan separuh langkah lagi aku telah menyelesaikan studiku, merancang prospek dalam peta hidup yang matang utuk masa depan. Absolutely. Upps…. Peta hidup? Masa depan. Hey…berarti dengan kata lain aku sudah siap menjadi salah satu dari jutaan orang-orang muda yang berizasah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan. Itulah ketakutan yang kualami ketika mengingat bekerja. Mengingat pekerjaan tak mudah dicari seperti mencari ikan di lautan yang tiap hari para nelayan lakukan. Jelasnya, bahwa aku seperti halnya jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan republik ini belum bisa menampung orang-orang sepertiku. sekali lagi, sempit sekali lapangan kerja itu sobat.
Opsi kedua adalah terjun nekat dimasyarakat dengan kadar ilmu kita yang …ahh. Ini juga menguak rasa pesimisku yang menggrogotiku pelan-pelan. Apa yang mungkin ku capai dan ku sumbangkan bagi umat manusia dalam pemahaman dan keilmuan masih di bawah standaritas? apakah hidup ini pantas di jalani tanpa kemanfaatan bagi masyarakat ? sedangkan aku seorang strata satu sarjana hukum jebolan salah satu pesantren terbonafid di wilayah Bogor . Dilema, memang dilema.
Pikiranku sudah terlalu jauh menerawang mendobrak langit-langit kamarku, melewati asteroid dan ribuan meteor,melintasi zona yang paling teratas, menembus neptunus, dan menguap di sana . Sampai aku tak sadar hampir setengan dari malam aku berpetualang dalam khayalku. Sekarang sudah pukul 11.00 malam. Kulihat teman-temanku sudah terkapar dalam ranjang-ranjang susunnya, terhisap dalam dunia bawah sadar. Dan aku berusaha memejamkan kedua mataku, walau agak sedikit susah terjaga, akhirnya sayup-sayup hitam mulai melintas di mataku. Dan akupun tertidur.
* * *
Aku terperanjat kaget. Kemudian bangun, duduk terpaku seperti linglung. Aku baru sadar setelah jendela kamar ini menyelinapakan hawa duha dan jarum jam berteriak mengejekku “ lihat angka delapan. Dasar pemalas!!!”. Aku telah meninggalkan subuhku dan yang paling menggetarkan seluruh tubuh, aku terlambat untuk mengikuti sidang munaqosah. Tak ada satupun teman-temanku yang nampak di ruangan ini yang tiba-tiba terasa pengap bagiku. Kemana kalian pergi, mengapa tidak membangunkanku.
Dalam keadaan panik yang sungguh tak terperikan, aku segera mencuci muka tanpa memperdulikan odor tubuhku yang menghembuskan aroma hangus.dan pakaianpun begitu saja meleket sejadinya di tubuhku.
Ruang ujian yang tak lain adalah kelas kami, kampus kaca terletak cukup jauh dari kamarku, sehingga aku harus setengah berlari memompa jantungku agar tak terlambat. Dan di sana ku lihat ke empat belas temanku yang sudah duduk di kursi-kursi besi berbaris yang diletakan menghadap dua kursi dan satu meja diantara kedua kursi tersebut. Jika di lihat dari arah pintu luar dan jika dibayangkan apa yang terjadi dalam ruangan di balik pintu kaca ini, jarak antara kursi besi dan dua kursi yang berhadapan dengan meja diantaranya yang tak lain adalah singgasana Drs Karim Sudrajat MBA, pengujiku, dapat ku simpulkan bahwa ini adalah ruang bagi langkah-langkah terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum mati, sebab dalam ruangan itulah para akademis menggantung nasibnya.
Aku langsung masuk dan duduk pada kursi yang sudah disiapkan untukku diantara para calon wisudawan yang lain.
“ fauzul Adzim dengan nomor urut 08!” pendamping penguji itu memanggil namaku lewat walky talky yang dipegangnya. Aku mendapat kesempatan pertama untuk menduduki kursi listrik. Aku segera maju dan duduk di depan Drs Karim. Jarak kami kira-kira hanya satu meter dengan pemisah sebuah meja yang di penuhi tumpukan-tumpukan manuskrip.
Drs. Karim dengan seksama mengamatiku dari ujung rambut sampai bagian tubuhku yang tertutupi mejanya dalam keadaan duduk. Tak surut skeptis dalam pandangannya. Posisinya adalah pormasi yang jitu untuk mengaduk-aduk adrenalinku. Keringatpun keluar dari dahiku, ku usap keringatku agar aku tak terlihat gugup. Dan ku longgar-longgarkan dasiku yang kini rasanya mulai mencekik leherku.
“ kamu Fauzul Adzim?” dia mengambil skripsiku yang berada dipaling atas tumpukan mejanya. Kini tatapannya beralih pada kertas-kertas itu.
“ Iya Pak.” Aku sedikit mendongakan kepalaku berusaha menghilangkan ketegangan yang sedari tadi berkelebat dalam ruang dadaku. Ku tekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya.
Dia membolak-balikan lembar demi lembaran skripsiku. Matanya memicing skeptik, kedua ujung alisnya bertemu. Raut wajahnya menyerupai goresan-goresan pedang yang siap dihunuskan ke mataku. Dan ku lihat sisiran rambutnya yang kelimis oleh luluran tanco dipaksa untuk mengikuti gaya rusell crow “skizofrenik” dalam beautiful mind. Sungguh memperihatinkan, seorang magister yang sudah menjadi korban mode, ter-brainwash oleh kumkuman westernisasi yang tengah menjamur di bumi pertiwi ini, harus berjuang mati-matian melawan tuntutan idealisme. Sesekali dia mengangkat wajahnya seringai memancarkan sinyal “skiripsi apa ini. Rongsokan..!!.”.aku semakin khawatir ketika dia terus memperhatikan lembaran-lembaran pada bab pertama kemudian langsung membuka pada bab kesimpulan. Tak lama dia tutup lembaran-lembaran itu sambil menarik napas dalam-dalam.tak dinyana, dia membantingkanya tepat di depan wajahku.
“ skripsi kamu…” matanya terus menatap tajam bak singa bertemu mangsa “ di tolak !!!”. kata-katanya begitu getas meliuk-liuk telingaku.
“ Ma..maaf Pak?” Aku ingin memastikan apakah Drs Karim tidak sedang membual.
“ Ya… skripsi kamu tidak diterima”
“ ta…tapi, kenapa pak? Saya mampu mempresentasikan hasil penelitian saya ini.”
“Skripsi kamu ini sudah tidak jelas pemabatasan dan perumusan masalahnya. Tidak perlu kamu presentasikan!!” dia menaikan nada suaranya.
“ saya mohon pak. Beri saya kesemapatan “ aku tetap berusaha dalam keadaan tenang.
“ Penelitian yang kamu buat ini tidak jauh dari barang-barang yang ada dalam tong sampah. Coba lihat! tak ada korelasi judul yang kamu angkat dengan kesimpulannya. Ini yang kamu sebut skripsi”.Mudah sekali pekikan pahit itu keluar dari mulutnya. Dia tidak merasakan betapa penuh perjuangan ketika harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas itu, tetapi begitu mudah sekali bolpoint sialannya itu mencoret-coretnya.
“lebih baik kamu buat penelitian yang baru, yang lebih bermutu. Kalau seandainya tidak, ya….terpaksa kamu harus mundur sampai tahun depan”. Sepertinya pak karim sudah tidak punya toleran lagi. Dia sudah mengikis semua harapan-harapanku.
“ Pak,…saya mohon pak…”. Aku tidak tahu sudah keberapa kalinya aku memohon kepada Drs. Karim. Tapi tetap saja nihil. Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Sampai akhirnya dia memanggil dua orang laki-laki yang tiba-tiba masuk dari arah pintu dengan berseragam hijau lumut yang bertuliskan “ security” di bagian kiri dadanya. Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini, sejak kapan pondok pesantren ini menyewa dua polisi gadungan ini, melihatnya pun belum pernah. Dan tanpa basa basi, sekonyong-konyok dia mencidukku, memberondongku dari tempat dudukku ke luar ruangan. Karena tak mampu melawan kerasnya genggaman tangan security itu, Aku meronta, berteriak meminta tolong sejadinya. Tapi tak ada satupun teman-temanku yang peduli.mereka hanya diam mematung menyaksikan kekerdilanku.
“ tolong teman-teman, tolongin ana dong…,tolooong…..tolooong.”
Tiba-tiba terasa yang ada mengoyang-goyangkan tubuhku. Bukan kedua sekuriti itu, bukan juga teman-temanku yang dari tadi hanya memaku tubuhnya dalam kursi-kursi berbaris. Secara langsung, aku dapat merasakan tubuhku yang berevolusi dari dua tempat yang berbeda. Fuga? Ini bukan fuga.tapi semacam keadaan trance. Dan aku lebih yakin ketika setelah melihat sosok tubuh yang tak asing dalam sayup-sayup berdiri di sampingku dan tangannya memegang bahuku. Burhan.
“ Jul, bangun Jul! ”. suaranya mendobrak ruang pekat di kepalaku dimana aku yang terkunci dalam perangkap alam bawah sadar.ruangan kamar ini dan Burhan, temanku yang pertama kali aku lihat. Ku coba rangkaikan pecahan-pecahan memori dalam otakku, ku tepiskan sayup-sayup bias pada mataku. Dan ku simpulkan dalam dua buah kata, mimpi buruk.
“ Jul, kamu teriak-teriak tadi. Mimpi apaan sih?” burhan mengusap butir-butir keringat di dahiku.
“ Mimpi buruk mas Bur. Jam berapa sekarang mas?”. Aku bangun merenggangkan sendi-sendi dan ototku.
“ Jam empat kurang seperempat. Sebentar lagi adzan subuh. Tahajud dulu yuk. Biar agak tenang”. Burhan menghambur ke ruang tengah dan menggelar sajadahnya. Aku segera terdorong untuk mengambil air wudhu. Dan kemudian mengikuti tahajjud di belakangnya. Tak lama dentuman yaa hayyu yaa qoyyum menggema, merambah seantero pelosok pesantren. Membangunkan seluruh santri yang terlelap dalam buai mimpinya.
* * *
Pagi, 17 april 2006 , sinar mentari menyapa lewat jendelaku yang melukiskan pagi yang indah. Seindah perasaan hatiku saat ini. Ku kenakan pakaian terbaikku sepanjang masa, demi satu acara yang sangat penting, sidang monakosah, mimpiku yang hilang dalam lipatan-lipatan malam tadi. Semoga itu bukanlah dejavu. Dan telah ku tanamkan dalam diriku tujuh huruf yang paling esensial “ optimis” maka aku percaya semangat, tawakal, dan percaya diri dapat menaklukan apapun. Kulangkahkan kaki bismillahi tawakkaltu untuk meraih mimpi-mimpiku. Sidang munakosah menungguku. Ayah, ibu please pray for me.
Hujan Dan Kemerdekaan
Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan prolog hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, kami bisa mencium aroma debu membasah, menyerap tetes demi tetes rombongan air dari langit. Sebuah aroma yang sangat kami suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagi kami, yang membuat hati kami selalu ingin berteriak “Merdeka…!! Merdeka…!!”
Waktu berlalu, Tuhan memang telah menulis skenario hidup kami, dengan memilih scene-scene tertentu yang harus kami perankan saat langit memberondong bumi dengan pelor-pelor hujan. Hujan selalu menjadi saksi bagi setiap adegan dimana kami hidupkan karakter penokohan kami. Yah, kamilah protogonis menurut versi kami, dan antagonis menurut mereka yang tidak menyukai kami. Kamilah aktor dan aktris yang selalu memerankan bagian terklimaks pada plot hidup saat hujan turun ke bumi. Singkat kata, hujan adalah background bagi setiap pergulatan kami.
Termasuk siang ini, aku dan makhluk cantik yang tomboy itu berada di sebuah salon tanpa pelanggan di samping SMU. Kami telah sepakat untuk merayakan kelulusan kami dengan mencukur habis kepala kami.
“Aan” itulah potongan nama Anika Aprilia yang sengaja ia pilih sebagai panggilannya. “Biar maskulin!” ujarnya suatu ketika. Kami bersahabat sejak Tuhan mentakdirkan kami untuk bertemu di kelas satu SMU. Biar kami bersahabat namun kami punya prinsip, “tak ada hari tanpa bertengkar”. Hampir dalam segala hal, Aan selalu meminta pendapat dariku dan hampir semua pendapat itu selalu ditolaknya mentah-mentah. Begitulah.
Tiga tahun kami diaduk oleh waktu dalam kawah candra dimuka pendidikan. Tiga tahun kami dijejali aksara-aksara pengetahuan. Kata mereka - yang biasa kami panggil ‘guru’ – itu semua sanggup merubah nasib kami. Tiga tahun kami kenyang dengan doktrin serta undang-undang. Dan hari ini, momen besar akan terjadi. Ijazah kelulusan bagi kami sesakti amnesti dari penguasa orde baru yang akan membebaskan kami dari ‘penjara’ ini. Dengan nilai yang tak sempat kami lirik, kami cukup puas. Kami lulus.
Hari ini, langit yang mendung seolah mengisyaratkan sesuatu. Perpisahan dilaksanakan di aula sekolah dengan acara yang tak lebih menarik dari hujan yang mulai turun satu persatu. Kamipun nekad tidak mengikuti acara seremonial yang mesti begini mesti begitu. Sebab nama kami tak mungkin disebutkan dalam urutan siswa berprestasi. Kami lebih memilih cubitan butir-butir hujan yang membawa aroma debu membasah yang dapat melahirkan jiwa baru kami untuk menyongsong kemerdekaan demi kemerdekaan sesusai pemahaman kami.
Di mata kami, hujan adalah kemerdekaan bagi butir-butir air yang seolah baru terbebas setelah bertahun-tahun terpenjara di bui angkasa. Petir adalah kemerdekaan bagi cahaya maha cepat untuk beraksi seenaknya, mencari perhatian manusia, menebang pohon dan merusak hutan tanpa harus menjadi buronan karena kasus illegal logging. Desir angin adalah kemerdekaan bagi udara yang berlari-lari saling kejar, seperti bocah kecil yang riang bermain gobag sodor. Semua adalah bagian dari kemerdekaan yang menjadi buruan hidup kami. Kami selalu ingin merdeka, termasuk merdeka dari tuntutan peraturan dan batasan-batasan.
“
Tapi tiba-tiba kurasakan sebuah keheranan yang luar biasa, layaknya seorang ibu yang melihat bayinya lahir dengan jari tak sempurna. Aku melihat mata bulat Aan keruh, berkaca-kaca dan wajahnya kian memerah. Hari ini adalah kali pertama telingaku mendengar isak dari seorang tomboy yang tak pernah kulihat sebagai seorang wanita ini.
“Tapi Rio…” air mukanya naik turun “Hari ini pula aku akan kehilangan buruan hidup kita selama ini” hening sejenak “aku akan kehilangan seluruh kemerdekaanku…” tangis keras pun pecah. Rombongan bangau melintas, seolah mengajak kami untuk turut menikmati kebebasannya. Angin bertiup seolah protes dengan ‘teks proklamasi kemerdekaan’ kami yang tiba-tiba dihentikan pembacaannya oleh takdir. Sunyi memeluk persahabatan kami yang seolah dipaksa beku oleh nasib.
“Kamu bicara apa sih, An..?” tanyaku penuh curiga. Aan menunduk “Hari ini aku akan terpenjara di sebuah bui, dimana setiap yang kulihat adalah batasan dan semua yang aku temui adalah peraturan”.
“Maksudmu?” selidikku tak mengerti. “Ayahku… ayahku Rio, kau tahu
Aku akan terpisah dari patner bolos sekolahku. Aku akan rindu dengan kenakalannya, aku akan kangen dengan kebadungannya, aku akan kesepian dengan ide-ide jailnya, aku akan sangat kehilangan seorang yang selalu meminta sekaligus menolak pendapatku mentah-mentah.
Aan menjatuhkan badannya, setelah seluruh bangunan ‘prasasti kemerdekaan’ di hatinya terlebih dahulu luluh lantak. Di atas lapangan hijau yang basah ia duduk dan memeluk kedua lututnya. Kulihat tangan Aan meremas rumput hijau tak berdosa. Lalu mencabut dan melempar sekenanya. “Di pesantren mana An?” suaraku kini merendah, bergetar memecah diam. “Jawa Timur” Aan menghela nafas, aku masih terperangah “bermimpipun aku tak pernah
Setahun berlalu.
Sore ini aku berdiri di depan jendela kamarku yang kubuka lebar-lebar, bukan sekedar untuk menanti turunnya hujan, namun juga untuk membaca
“Assalamu ‘alaikum…
Namun, seorang pria bersorban telah mengajariku bagaimana cara bermimpi. Bagaimana cara meneropong kemerdekaan dari titik yang tepat, sehingga aku dapat melihatnya secara utuh. Aku jadi tahu kemerdekaan bukanlah sinonim dari kata kebebasan. Namun justru kemerdekaan adalah batasan, maksudku batasan logis untuk sebuah ekspresi, sebab setiap manusia punya hari depan. Apa yang kita lakukan hari ini, adalah torehan tinta, dimana lukisan dalam bentuk sempurna akan terlihat di kanvas masa depan. Sehingga hanya dengan kemerdekaan untuk berjuang melawan serdadu nafsu, lukisan itu akan terjaga dari noktah-noktah pencemarannya.
Rio sahabatku, lalu oleh beliau, aku dididik untuk tidak sekedar memotret mimpiku, namun juga meng’afdruk’nya. Aku paham.
Rio, hari ini Aan telah mati dan lahirlah Anika Aprilia, yang juga masih selalu ingin merdeka. Aku masih suka hujan, bahkan aku ingin menjadi hujan. Tapi aku punya definisi baru tantang hujan dan sejumlah prolognya. Bagiku kini, hujan adalah garis start dimana secara mental aku berevolusi dari buta menjadi bermata, seperti butir hujan yang kadang turun tiba-tiba, melesat cepat karena faham bahwa terlalu banyak tanah gersang di bumi yang perlu segera disirami. Petir adalah dentuman semangat yang membuatku siuman dari ketidaksadaran purba, sehingga aku mengerti bahwa putus asa hanyalah hak mereka yang jauh dari Tuhannya. Desir angin adalah himne bersyair janji, yang membangun kepercayaan kita, bahwa seremeh apapun yang kita lakukan saat ini, bisa saja menjelma menjadi hal luar biasa di kemudian hari.
Awan hitam adalah foto-foto ketersesatan kita saat memaknai arti sebuah kemerdekaan. Sementara debu membasah adalah gambaran jiwaku yang dulu kerontang, namun kini membasah, menjadi sejuk, menjadi segar.
Rio sahabatku, mulai saat ini, panggil aku Ika! Dan aku bukan muhrimmu. Merdeka…!! Wassalam…”
Petir meledak tiba-tiba. Aku kembali merasakan heran yang luar biasa, sama seperti saat kulihat Aan menangis pada kali yang pertama. Kuraih foto yang terpajang di atas meja kamarku. Foto Aan yang diam-diam kuambil dua tahun yang lalu saat ia panjat pohon mangga di samping rumahku.
Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan 'prolog' hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, aku bisa mencium aroma debu membasah. Sebuah aroma yang sangat aku suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagiku, meski kini seolah memiliki makna yang baru. Asing, aku belum begitu mengenalnya. Kulirik foto Aan. Lalu kulihat ia turun dan memakai mukena, berjalan pelan dan menunduk menenteng sajadah merah. Ini adalah pertama kalinya secara virtual aku melihat Aan ia sebagai seorang wanita. Dan hujan hari ini, telah mengajarkanku betapa selama ini aku keliru dalam memaknai kemerdekaan.
Selesai




