Oleh : Zi'e
Cerpen ini di dedikasikan untuk para calon Wisudawan Agustus
" keep up and never give up "
Malam pekat, 16 April 2009 , kubaringkan tubuhku dalam ranjang bersusun berharap imsomnia tidak akan datang lagi setelah malam ini. Masih ku pandangi skripsi yang dari tadi ku pegang erat, membayangkan hari esok yang menegangkan, besok aku harus mempertanggungjawabkan skripsi yang telah aku revisi beberapa kali di depan penguji. Bermacam antisipasi telah aku tata dalam menghadapi kemungkinan aku harus gulung tikar. Ku habiskan seluruh waktuku selama beberapa bulan terakhir ini untuk mempersiapkan sidang munakosah dengan belajar bersungguh-sungguh,mengasah otak, memeras keringat, meng-up grade memori-memori yang kian tumpul setiap hari sampai – sekali lagi aku menyebutkan penyakit terkutuk itu – imsomnia tak jarang menyergapku hampir setiap malam. Perasaan takut, gembira, gugup berbaur bergemuruh dalam ruang dadaku. Takut kalau seandainya kelulusan itu jauh di depan mata. Dan tangan tak mampu menjangkau mimpi-mimpi itu, yang ada hanya gigi yang memggigit bibir kelu. Apa yang nanti harus di tanggung kedua orang tuaku yang tujuh tahun lalu melepaskanku di pesantren ini dengan penuh linangan air mata? Kekecewaan pastinya. tapi ada seberkas kebahagiaan berputar-putar di kepalaku. Dengan separuh langkah lagi aku telah menyelesaikan studiku, merancang prospek dalam peta hidup yang matang utuk masa depan. Absolutely. Upps…. Peta hidup? Masa depan. Hey…berarti dengan kata lain aku sudah siap menjadi salah satu dari jutaan orang-orang muda yang berizasah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan. Itulah ketakutan yang kualami ketika mengingat bekerja. Mengingat pekerjaan tak mudah dicari seperti mencari ikan di lautan yang tiap hari para nelayan lakukan. Jelasnya, bahwa aku seperti halnya jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan republik ini belum bisa menampung orang-orang sepertiku. sekali lagi, sempit sekali lapangan kerja itu sobat.
Opsi kedua adalah terjun nekat dimasyarakat dengan kadar ilmu kita yang …ahh. Ini juga menguak rasa pesimisku yang menggrogotiku pelan-pelan. Apa yang mungkin ku capai dan ku sumbangkan bagi umat manusia dalam pemahaman dan keilmuan masih di bawah standaritas? apakah hidup ini pantas di jalani tanpa kemanfaatan bagi masyarakat ? sedangkan aku seorang strata satu sarjana hukum jebolan salah satu pesantren terbonafid di wilayah Bogor . Dilema, memang dilema.
Pikiranku sudah terlalu jauh menerawang mendobrak langit-langit kamarku, melewati asteroid dan ribuan meteor,melintasi zona yang paling teratas, menembus neptunus, dan menguap di sana . Sampai aku tak sadar hampir setengan dari malam aku berpetualang dalam khayalku. Sekarang sudah pukul 11.00 malam. Kulihat teman-temanku sudah terkapar dalam ranjang-ranjang susunnya, terhisap dalam dunia bawah sadar. Dan aku berusaha memejamkan kedua mataku, walau agak sedikit susah terjaga, akhirnya sayup-sayup hitam mulai melintas di mataku. Dan akupun tertidur.
* * *
Aku terperanjat kaget. Kemudian bangun, duduk terpaku seperti linglung. Aku baru sadar setelah jendela kamar ini menyelinapakan hawa duha dan jarum jam berteriak mengejekku “ lihat angka delapan. Dasar pemalas!!!”. Aku telah meninggalkan subuhku dan yang paling menggetarkan seluruh tubuh, aku terlambat untuk mengikuti sidang munaqosah. Tak ada satupun teman-temanku yang nampak di ruangan ini yang tiba-tiba terasa pengap bagiku. Kemana kalian pergi, mengapa tidak membangunkanku.
Dalam keadaan panik yang sungguh tak terperikan, aku segera mencuci muka tanpa memperdulikan odor tubuhku yang menghembuskan aroma hangus.dan pakaianpun begitu saja meleket sejadinya di tubuhku.
Ruang ujian yang tak lain adalah kelas kami, kampus kaca terletak cukup jauh dari kamarku, sehingga aku harus setengah berlari memompa jantungku agar tak terlambat. Dan di sana ku lihat ke empat belas temanku yang sudah duduk di kursi-kursi besi berbaris yang diletakan menghadap dua kursi dan satu meja diantara kedua kursi tersebut. Jika di lihat dari arah pintu luar dan jika dibayangkan apa yang terjadi dalam ruangan di balik pintu kaca ini, jarak antara kursi besi dan dua kursi yang berhadapan dengan meja diantaranya yang tak lain adalah singgasana Drs Karim Sudrajat MBA, pengujiku, dapat ku simpulkan bahwa ini adalah ruang bagi langkah-langkah terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum mati, sebab dalam ruangan itulah para akademis menggantung nasibnya.
Aku langsung masuk dan duduk pada kursi yang sudah disiapkan untukku diantara para calon wisudawan yang lain.
“ fauzul Adzim dengan nomor urut 08!” pendamping penguji itu memanggil namaku lewat walky talky yang dipegangnya. Aku mendapat kesempatan pertama untuk menduduki kursi listrik. Aku segera maju dan duduk di depan Drs Karim. Jarak kami kira-kira hanya satu meter dengan pemisah sebuah meja yang di penuhi tumpukan-tumpukan manuskrip.
Drs. Karim dengan seksama mengamatiku dari ujung rambut sampai bagian tubuhku yang tertutupi mejanya dalam keadaan duduk. Tak surut skeptis dalam pandangannya. Posisinya adalah pormasi yang jitu untuk mengaduk-aduk adrenalinku. Keringatpun keluar dari dahiku, ku usap keringatku agar aku tak terlihat gugup. Dan ku longgar-longgarkan dasiku yang kini rasanya mulai mencekik leherku.
“ kamu Fauzul Adzim?” dia mengambil skripsiku yang berada dipaling atas tumpukan mejanya. Kini tatapannya beralih pada kertas-kertas itu.
“ Iya Pak.” Aku sedikit mendongakan kepalaku berusaha menghilangkan ketegangan yang sedari tadi berkelebat dalam ruang dadaku. Ku tekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya.
Dia membolak-balikan lembar demi lembaran skripsiku. Matanya memicing skeptik, kedua ujung alisnya bertemu. Raut wajahnya menyerupai goresan-goresan pedang yang siap dihunuskan ke mataku. Dan ku lihat sisiran rambutnya yang kelimis oleh luluran tanco dipaksa untuk mengikuti gaya rusell crow “skizofrenik” dalam beautiful mind. Sungguh memperihatinkan, seorang magister yang sudah menjadi korban mode, ter-brainwash oleh kumkuman westernisasi yang tengah menjamur di bumi pertiwi ini, harus berjuang mati-matian melawan tuntutan idealisme. Sesekali dia mengangkat wajahnya seringai memancarkan sinyal “skiripsi apa ini. Rongsokan..!!.”.aku semakin khawatir ketika dia terus memperhatikan lembaran-lembaran pada bab pertama kemudian langsung membuka pada bab kesimpulan. Tak lama dia tutup lembaran-lembaran itu sambil menarik napas dalam-dalam.tak dinyana, dia membantingkanya tepat di depan wajahku.
“ skripsi kamu…” matanya terus menatap tajam bak singa bertemu mangsa “ di tolak !!!”. kata-katanya begitu getas meliuk-liuk telingaku.
“ Ma..maaf Pak?” Aku ingin memastikan apakah Drs Karim tidak sedang membual.
“ Ya… skripsi kamu tidak diterima”
“ ta…tapi, kenapa pak? Saya mampu mempresentasikan hasil penelitian saya ini.”
“Skripsi kamu ini sudah tidak jelas pemabatasan dan perumusan masalahnya. Tidak perlu kamu presentasikan!!” dia menaikan nada suaranya.
“ saya mohon pak. Beri saya kesemapatan “ aku tetap berusaha dalam keadaan tenang.
“ Penelitian yang kamu buat ini tidak jauh dari barang-barang yang ada dalam tong sampah. Coba lihat! tak ada korelasi judul yang kamu angkat dengan kesimpulannya. Ini yang kamu sebut skripsi”.Mudah sekali pekikan pahit itu keluar dari mulutnya. Dia tidak merasakan betapa penuh perjuangan ketika harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas itu, tetapi begitu mudah sekali bolpoint sialannya itu mencoret-coretnya.
“lebih baik kamu buat penelitian yang baru, yang lebih bermutu. Kalau seandainya tidak, ya….terpaksa kamu harus mundur sampai tahun depan”. Sepertinya pak karim sudah tidak punya toleran lagi. Dia sudah mengikis semua harapan-harapanku.
“ Pak,…saya mohon pak…”. Aku tidak tahu sudah keberapa kalinya aku memohon kepada Drs. Karim. Tapi tetap saja nihil. Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Sampai akhirnya dia memanggil dua orang laki-laki yang tiba-tiba masuk dari arah pintu dengan berseragam hijau lumut yang bertuliskan “ security” di bagian kiri dadanya. Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini, sejak kapan pondok pesantren ini menyewa dua polisi gadungan ini, melihatnya pun belum pernah. Dan tanpa basa basi, sekonyong-konyok dia mencidukku, memberondongku dari tempat dudukku ke luar ruangan. Karena tak mampu melawan kerasnya genggaman tangan security itu, Aku meronta, berteriak meminta tolong sejadinya. Tapi tak ada satupun teman-temanku yang peduli.mereka hanya diam mematung menyaksikan kekerdilanku.
“ tolong teman-teman, tolongin ana dong…,tolooong…..tolooong.”
Tiba-tiba terasa yang ada mengoyang-goyangkan tubuhku. Bukan kedua sekuriti itu, bukan juga teman-temanku yang dari tadi hanya memaku tubuhnya dalam kursi-kursi berbaris. Secara langsung, aku dapat merasakan tubuhku yang berevolusi dari dua tempat yang berbeda. Fuga? Ini bukan fuga.tapi semacam keadaan trance. Dan aku lebih yakin ketika setelah melihat sosok tubuh yang tak asing dalam sayup-sayup berdiri di sampingku dan tangannya memegang bahuku. Burhan.
“ Jul, bangun Jul! ”. suaranya mendobrak ruang pekat di kepalaku dimana aku yang terkunci dalam perangkap alam bawah sadar.ruangan kamar ini dan Burhan, temanku yang pertama kali aku lihat. Ku coba rangkaikan pecahan-pecahan memori dalam otakku, ku tepiskan sayup-sayup bias pada mataku. Dan ku simpulkan dalam dua buah kata, mimpi buruk.
“ Jul, kamu teriak-teriak tadi. Mimpi apaan sih?” burhan mengusap butir-butir keringat di dahiku.
“ Mimpi buruk mas Bur. Jam berapa sekarang mas?”. Aku bangun merenggangkan sendi-sendi dan ototku.
“ Jam empat kurang seperempat. Sebentar lagi adzan subuh. Tahajud dulu yuk. Biar agak tenang”. Burhan menghambur ke ruang tengah dan menggelar sajadahnya. Aku segera terdorong untuk mengambil air wudhu. Dan kemudian mengikuti tahajjud di belakangnya. Tak lama dentuman yaa hayyu yaa qoyyum menggema, merambah seantero pelosok pesantren. Membangunkan seluruh santri yang terlelap dalam buai mimpinya.
* * *
Pagi, 17 april 2006 , sinar mentari menyapa lewat jendelaku yang melukiskan pagi yang indah. Seindah perasaan hatiku saat ini. Ku kenakan pakaian terbaikku sepanjang masa, demi satu acara yang sangat penting, sidang monakosah, mimpiku yang hilang dalam lipatan-lipatan malam tadi. Semoga itu bukanlah dejavu. Dan telah ku tanamkan dalam diriku tujuh huruf yang paling esensial “ optimis” maka aku percaya semangat, tawakal, dan percaya diri dapat menaklukan apapun. Kulangkahkan kaki bismillahi tawakkaltu untuk meraih mimpi-mimpiku. Sidang munakosah menungguku. Ayah, ibu please pray for me.
PP TUNAS Perkuat Peran Orang Tua Dalam Melindungi Anak dari Penipuan Digital
-
*JPNN.com*, JAKARTA - Pemerintah telah menerbitkan Pemerintah Nomor 17
Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam
Pelindungan A...
50 minutes ago





0 comments:
Post a Comment