Tuesday, October 27, 2009

Imam Gozali

Tuesday, October 27, 2009
Al-Ghazzali Si Yatim
Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzali diasuh oleh seorang sufi miskin atas wasiat sang ayah sebelum ia meninggal. Ayahnya, penenun yang sangat mencintai para ulama itu, hanya meninggalkan sedikit harta saja untuk memenuhi kebutuhan al-Ghazzali, sampai habislah harta peninggalan yang sedikit itu. Kemudian si sufi meminta maaf karena tidak dapat melanjutkan wasiat sang ayah dengan harta benda yang dimilikinya. Akhirnya si sufi memasukkan al-Ghazzali di sebuah sekolah gratis yang menanggung semua kebutuhan para santrinya. Al-Ghazzalipun memulai kehidupannya yang baru dengan penuh semangat.
Bintang Yang Semakin Benderang
Al-Ghazzali di masa kecilnya sangat antusias dengan bidang fiqih. Dia belajar dari beberapa guru di daerah yang berbeda-beda, seperti Syaikh Ahmad bin Muhammad ar-Radzakani di kota Thusi, Imam Abu Nashr al-Ismaili di Jurjan, juga Imam Haramain al-Juwaini di Naisabur. Al-Ghazzali terus tumbuh dengan ilmu-ilmu yang ia tekuni.
Disamping bidang fiqih, al-Ghazzali juga sangat pandai dalam filsafat, ushul, manthiq, hikmah, dan juga ilmu perdebatan.
Pernah suatu ketika, di Askar, raja yang berkuasa mempertemukan al- Ghazzali dengan para tokoh dan alim ulama di dalam sebuah diskusi problematika agama. Al-Ghazzali mengeluarkan pemikiran- pemikiran cemerlangnya untuk problem-problem yang tengah mereka hadapi, dan mematahkan argumen lawan. Semua peserta diskusi terpana dibuatnya, sehingga merekapun mengakui kedalaman ilmu dan kelebihan yang al-Ghazzali miliki. Sejak itu raja memerintahkan al-Ghazzali untuk mengajar di madrasah Nidzamiah, Bagdad.
Jurang Terjal
Pamor al-Ghazzali kian bersinar, majelisnya selalu dipenuhi tak kurang dari 300 ulama dan pembesar kota Bagdad yang datang untuk mendengarkan pengajiannya. Al-Ghazzali kini bak kiblat bagi para penuntut ilmu.
Kian lama, al- Ghazzali merasakan polemik yang kian berkecamuk di dalam jiwanya. Dia merasa bahwa ilmu dan pengajarannya kini tak lagi murni untuk Allah Sang Pencipta. Melainkan untuk mendapat wibawa dan jabatan. Al-Ghazzali bermaksud meluruskan kembali niatnya dalam berdakwah dan membersihkankan lagi hati dan jiwanya. Akhirnya, diapun memutuskan untuk keluar dari Bagdad. Berhasil, al- Ghazzali dapat keluar menuju Makkah tanpa diketahui pihak kerajaan bahkan santri-santri yang pasti akan menahannya.
Pembentukan Diri
Sesampainya di Syam, al-Ghazzali mengasingkan diri dua tahun lamanya. Dia terus melakukan riyadhah dan mujahadah, serta selalu sibuk untuk membersihkan hati dan jiwanya. Tiap siang hari, dia menaiki menara masjid dan mengunci diri di dalamnya, menghabiskan waktunya hanya untuk Allah SWT.
Tahun berselang, seiring hati dan jiwanya terbentuk, al- Ghazzali rindu akan Makkah dan Madinah. Diapun menziarahinya. Dari situ, dia mulai terdorong untuk berdakwah dan berfikir untuk pulang ke tanah kelahirannya. Di perjalanan pulang inilah, al-Ghazzali mulai berdakwah di masjid-masjid yang ia lalui, sembari terus melenyapkan rasa cinta akan dunia dari hatinya. Di saat ini pula, ia mulai menulis salah satu karya fenomenalnya, yaitu kitab Ihya Ulumuddin, sebuah kitab rujukan dan pedoman bagi semua ahli tasawwuf sejak zamannya hingga aat ini.
Ibnu Najjar meriwayatkan bahwa al- Ghazzali tidak pernah mempelajari dan tidak pernah mempunyai guru hadits. Jadi, semua hadits yang disampaikan al- Ghazzali di Bagdad dan yang tertera di dalam kitab Ihya, semuanya merupakan ilham langsung dari Allah. Merupakan salah satu buah dari proses penyucian jiwa dan hati yang telah dia tempuh selama ini.
Coretan Emas Al-Ghazzali
Al-Ghazzali merupakan penulis yang produktif. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antaranya, Arbain fii Ushuliddin, Al-Wasith, Al-Bashit, Al-Wajiz dan puluhan kitab lainnya, baik yang terkait dengan masalah ushuluddin, aqidah, ilmu ushul, fiqih, filsafat, ataupun tasawwuf.
Terjawab sudah doa sang ayah, dahulu. Al- Ghazzali menjadi sebuah bukti kebenaran agama Islam pada zamannya.

Sang Mataharipun Tenggelam
Dinukil dari kitab Ats-Sabat Indal Mamat, diceritakan; pada subuh hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H, Al-Ghazzali berwudhu dan menunaikan shalat lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui malaikat maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum pagi datang bertepatan dengan umurnya yang ke-55 tahun dan dikuburkan di perkuburan ath-Thabaran.
Semoga Allah menjadikan kita pengganti-penggantinya. Amin.

0 comments:

Post a Comment

 
PernAk PerNik HidUpKoe. Design by Pocket