Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah.
Pada masa awal perkembangan Islam, umat Islam benar-benar menyadari bahwa posisi mereka sangatlah lemah dan tidak leluasa bergerak. Terlebih pada saat itu masyarakat di daerah tersebut yang kebanyakan dari keturunan Quraisy tidak akan pernah membiarkan umat Islam memperoleh kebebasan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya genderang perang telah ditabuh oleh orang-orang kafir Makkah sejak Rasulullah saw mengumandangkan risalah dakwah. Sehingga dengan cara bagaimanapun, mereka menghalalkan darah serta harta benda umat Islam. Keadaan seperti itu berlangsung dari waktu ke waktu sehingga umat Islam banyak yang meninggalkan Makkah dan secara tidak langsung harta benda kaum muslimin pun telah jatuh di tangan kaum kafir Makkah.
Apa yang dilakukan oleh orang kafir terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada kota Makkah saja, melainkan di kota yang menjadi kehidupan baru umat Islam, yaitu Madinah juga selalu dalam intaian orang-orang kafir. Di bawah pimpinan Kurz bin Habbab al-Fihri mereka terus memprovokasi kaum kafir lainnya untuk menyerang, menteror dan menguasai harta benda milik kaum Islam yang berada di Madinah.
Dengan keadaan seperti ini timbulah dalam diri mereka keingingan untuk tidak terus-menerus dalam keadaan tertindas. Untuk itu umat Islam pun mempersiapkan segalanya dengan cara berlatih, agar mereka tidak lagi dilecehkan. Dengan adanya hal ini sudah sewajarnya apabila orang-orang kafir menerima dan mendapatkan balasan atas semua penindasan yang yang mereka lakukan terhadap umat Islam pada waktu itu
Oleh karena itu, begitu Rasulullah mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan yang bersama 40 orang bergerak dari syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhanya mencapai seribu ekor onta, maka beliaupun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak menghadang rombongan Abu Sufyan. Adapun jumlah pasukan kaum muslimin pada saat itu hanya sekitar 313 orang yang terdiri dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Abu Sufyan yang terkenal dengan kecerdikannya mencoba mengorek informasi dari setiap rombongan orang yang ditemuinya hingga akhirnya ia mendengar kabar dari beberapa orang yang ditemuinya bahwa Nabi Muhammad saw telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk mencegat rombongan yang sedang membawa harta perdagangan mengetahui hal ini ia pun segera berhati-hati dan mengambil jalur perjalanan yang lain seraya mengirim utusan kepada penduduk Quraisy yang ada di kota Makkah untuk meminta bantuan maka di kirimlah Damdam untuk mengabarkan hal tersebut dengan mengatakan kepada penduduk Makkah “Hai orang-orang Qurasy, Muhammad dan para pengikutnya menyerangnya rombongan Abu Sufyan yang membawa unta-unta tunggangan kalian, tolong! tolong!” kota Makkah seketika itu langsung gempar karena kafilah terkaya sepanjang tahun dari pihak mereka kini sedang dalam bahaya.
Abu Sufyan tidak berpangku tangan begitu saja menanti uluran bantuan dari penduduk Quraisy. ia curahkan segenap kepiawaiannya agar mereka tidak jatuh ke tangan kaum muslimin. Abu Sufyan kemudian segera kembali ke tengah rombongan dan mengalihkan jalur perjalanan yaitu daerah pesisir pantai demi manghindari daerah Badar menuju ke kiri sehingga rombonganpun terselamatkan.
Di lain pihak pasukan Kafir Quraisy bergerak dengan penuh kesombongan dengan kekuatan yang besar untuk menyelamatkan Abu sufyan dan rombongan dari incaran kaum muslimin. Namun ternyata rombongan tersebut telah terselamatkan tetapi setelah mendengar berita tersebut mereka bukannya kembali menuju ke Makkah akan tetapi itu Abu Jahal berkata “Demi Tuhan, kita tidak kembali kecuali setelah sampai di Badar dan tinggal di sana selama tiga hari kita akan memotong hewan sembelihan memberi makan menuangkan khamr dan mendegarkan lagu dari para biduan. Kita lakukan ini agar orang-orang Arab segan kepada kita untuk selama-lamanya.” diantara rombongan ada sebagian yang tidak menghiraukan Abu Jahal dan kembali pulang ke Makkah.
Di balik bukit agak kesebelah timur laut kaum muslim sedang membongkar kemah. Nabi tahu bahwa mau tidak mau mereka harus mencapai perairan di Badar sebelum para musuh tiba di sana maka beliau memerintahkan untuk melakukan pembongkaran secepat mungkin. Baru saja mereka mulai hujan pun turun beliau menegaskan bahwa itu adalah rahmat Allah. sebuah berkah dan restu bagi mereka. Hujan menyegarkan tubuh mereka tetapi di sisi lain hujan merepotkan para musuh yang sedang mendekati Bukit Aqanqal yaitu lembah yang berlawanan arah dengan Badar. setelah itu rombongan Rosulullah bergerak menuju ke sebuah sumur besar yang terdekat dengan musuh dan menutup sumur-sumur yang ada di sekitarnya dan membangun waduk untuk kepentingan mereka sertu memenuhi kantung-kantung air pasukan muslim.
Malam harinya Allah membuat kaum muslimin tenang dan bisa tidur nyenyak sehingga mereka bangun dalam keadaan segar bugar. Hari itu adalah hari jum’at tanggal 17 maret 623 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyyah. Begitu fajar menyingsing tentara Kafir Quraisy dengan jumlah tak kurang dari 1000 orang bergerak maju dan mendaki Bukit Aqanqal. Nabi merapihkan barisan dan ketika Kaum Muslim diperintah untuk maju, sebenarnya mereka tidak maju sendirian seperti yang dijanjikan oleh Allah kepada Nabi bahwa “Aku akan menolongmu dengan seribu pasukan malaikat yang datang pasukan demi pasukan” (Q.S. 8: 12). Namun, kahadirannya para malaikat hanya terlihat atau terdengar oleh segelintir orang saja misalnya ada salah seorang tentara Islam sedang mengejar musuh tiba-tiba kepala orang yang dikejarnya itu jatuh ketanah sebelum ia berhasil menjangkaunya. Ada sebagian lagi melihat sekilas tentara berkuda dengan memakai surban kuning dan putih.
Dengan janji yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw dengan medapatkan kemenangan akhirnya meletuslah perang antara kedua belah pihak. Tak lama tentara kafirpun tercerai berai, tak sanggup lagi melanjutkan pertempuran dan banyak sekali korban dari pihak Kafir Quraisy diantaranya adalah Abu Jahal. Setelah pasukan Kafir Quraisy mundur dari medan peperangan Nabi pun memerintahkan agar mayat-mayat Kafir Quraisy dikuburkan kedalam satu lubang.
Pagi harinya Nabi bersama seluruh pasukan berangkat kembali menuju ke Madinah dengan membawa hasil rampasan perang (Ghonimah) dan sejumlah tawanan. Di lain pihak Kafir Quraisy kembali ke Makkah dalam kelompok-kelompok kecil yang diawali dan diikuti oleh beberapa orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri.
PP TUNAS Perkuat Peran Orang Tua Dalam Melindungi Anak dari Penipuan Digital
-
*JPNN.com*, JAKARTA - Pemerintah telah menerbitkan Pemerintah Nomor 17
Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam
Pelindungan A...
52 minutes ago





0 comments:
Post a Comment