Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan prolog hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, kami bisa mencium aroma debu membasah, menyerap tetes demi tetes rombongan air dari langit. Sebuah aroma yang sangat kami suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagi kami, yang membuat hati kami selalu ingin berteriak “Merdeka…!! Merdeka…!!”
Waktu berlalu, Tuhan memang telah menulis skenario hidup kami, dengan memilih scene-scene tertentu yang harus kami perankan saat langit memberondong bumi dengan pelor-pelor hujan. Hujan selalu menjadi saksi bagi setiap adegan dimana kami hidupkan karakter penokohan kami. Yah, kamilah protogonis menurut versi kami, dan antagonis menurut mereka yang tidak menyukai kami. Kamilah aktor dan aktris yang selalu memerankan bagian terklimaks pada plot hidup saat hujan turun ke bumi. Singkat kata, hujan adalah background bagi setiap pergulatan kami.
Termasuk siang ini, aku dan makhluk cantik yang tomboy itu berada di sebuah salon tanpa pelanggan di samping SMU. Kami telah sepakat untuk merayakan kelulusan kami dengan mencukur habis kepala kami.
“Aan” itulah potongan nama Anika Aprilia yang sengaja ia pilih sebagai panggilannya. “Biar maskulin!” ujarnya suatu ketika. Kami bersahabat sejak Tuhan mentakdirkan kami untuk bertemu di kelas satu SMU. Biar kami bersahabat namun kami punya prinsip, “tak ada hari tanpa bertengkar”. Hampir dalam segala hal, Aan selalu meminta pendapat dariku dan hampir semua pendapat itu selalu ditolaknya mentah-mentah. Begitulah.
Tiga tahun kami diaduk oleh waktu dalam kawah candra dimuka pendidikan. Tiga tahun kami dijejali aksara-aksara pengetahuan. Kata mereka - yang biasa kami panggil ‘guru’ – itu semua sanggup merubah nasib kami. Tiga tahun kami kenyang dengan doktrin serta undang-undang. Dan hari ini, momen besar akan terjadi. Ijazah kelulusan bagi kami sesakti amnesti dari penguasa orde baru yang akan membebaskan kami dari ‘penjara’ ini. Dengan nilai yang tak sempat kami lirik, kami cukup puas. Kami lulus.
Hari ini, langit yang mendung seolah mengisyaratkan sesuatu. Perpisahan dilaksanakan di aula sekolah dengan acara yang tak lebih menarik dari hujan yang mulai turun satu persatu. Kamipun nekad tidak mengikuti acara seremonial yang mesti begini mesti begitu. Sebab nama kami tak mungkin disebutkan dalam urutan siswa berprestasi. Kami lebih memilih cubitan butir-butir hujan yang membawa aroma debu membasah yang dapat melahirkan jiwa baru kami untuk menyongsong kemerdekaan demi kemerdekaan sesusai pemahaman kami.
Di mata kami, hujan adalah kemerdekaan bagi butir-butir air yang seolah baru terbebas setelah bertahun-tahun terpenjara di bui angkasa. Petir adalah kemerdekaan bagi cahaya maha cepat untuk beraksi seenaknya, mencari perhatian manusia, menebang pohon dan merusak hutan tanpa harus menjadi buronan karena kasus illegal logging. Desir angin adalah kemerdekaan bagi udara yang berlari-lari saling kejar, seperti bocah kecil yang riang bermain gobag sodor. Semua adalah bagian dari kemerdekaan yang menjadi buruan hidup kami. Kami selalu ingin merdeka, termasuk merdeka dari tuntutan peraturan dan batasan-batasan.
“
Tapi tiba-tiba kurasakan sebuah keheranan yang luar biasa, layaknya seorang ibu yang melihat bayinya lahir dengan jari tak sempurna. Aku melihat mata bulat Aan keruh, berkaca-kaca dan wajahnya kian memerah. Hari ini adalah kali pertama telingaku mendengar isak dari seorang tomboy yang tak pernah kulihat sebagai seorang wanita ini.
“Tapi Rio…” air mukanya naik turun “Hari ini pula aku akan kehilangan buruan hidup kita selama ini” hening sejenak “aku akan kehilangan seluruh kemerdekaanku…” tangis keras pun pecah. Rombongan bangau melintas, seolah mengajak kami untuk turut menikmati kebebasannya. Angin bertiup seolah protes dengan ‘teks proklamasi kemerdekaan’ kami yang tiba-tiba dihentikan pembacaannya oleh takdir. Sunyi memeluk persahabatan kami yang seolah dipaksa beku oleh nasib.
“Kamu bicara apa sih, An..?” tanyaku penuh curiga. Aan menunduk “Hari ini aku akan terpenjara di sebuah bui, dimana setiap yang kulihat adalah batasan dan semua yang aku temui adalah peraturan”.
“Maksudmu?” selidikku tak mengerti. “Ayahku… ayahku Rio, kau tahu
Aku akan terpisah dari patner bolos sekolahku. Aku akan rindu dengan kenakalannya, aku akan kangen dengan kebadungannya, aku akan kesepian dengan ide-ide jailnya, aku akan sangat kehilangan seorang yang selalu meminta sekaligus menolak pendapatku mentah-mentah.
Aan menjatuhkan badannya, setelah seluruh bangunan ‘prasasti kemerdekaan’ di hatinya terlebih dahulu luluh lantak. Di atas lapangan hijau yang basah ia duduk dan memeluk kedua lututnya. Kulihat tangan Aan meremas rumput hijau tak berdosa. Lalu mencabut dan melempar sekenanya. “Di pesantren mana An?” suaraku kini merendah, bergetar memecah diam. “Jawa Timur” Aan menghela nafas, aku masih terperangah “bermimpipun aku tak pernah
Setahun berlalu.
Sore ini aku berdiri di depan jendela kamarku yang kubuka lebar-lebar, bukan sekedar untuk menanti turunnya hujan, namun juga untuk membaca
“Assalamu ‘alaikum…
Namun, seorang pria bersorban telah mengajariku bagaimana cara bermimpi. Bagaimana cara meneropong kemerdekaan dari titik yang tepat, sehingga aku dapat melihatnya secara utuh. Aku jadi tahu kemerdekaan bukanlah sinonim dari kata kebebasan. Namun justru kemerdekaan adalah batasan, maksudku batasan logis untuk sebuah ekspresi, sebab setiap manusia punya hari depan. Apa yang kita lakukan hari ini, adalah torehan tinta, dimana lukisan dalam bentuk sempurna akan terlihat di kanvas masa depan. Sehingga hanya dengan kemerdekaan untuk berjuang melawan serdadu nafsu, lukisan itu akan terjaga dari noktah-noktah pencemarannya.
Rio sahabatku, lalu oleh beliau, aku dididik untuk tidak sekedar memotret mimpiku, namun juga meng’afdruk’nya. Aku paham.
Rio, hari ini Aan telah mati dan lahirlah Anika Aprilia, yang juga masih selalu ingin merdeka. Aku masih suka hujan, bahkan aku ingin menjadi hujan. Tapi aku punya definisi baru tantang hujan dan sejumlah prolognya. Bagiku kini, hujan adalah garis start dimana secara mental aku berevolusi dari buta menjadi bermata, seperti butir hujan yang kadang turun tiba-tiba, melesat cepat karena faham bahwa terlalu banyak tanah gersang di bumi yang perlu segera disirami. Petir adalah dentuman semangat yang membuatku siuman dari ketidaksadaran purba, sehingga aku mengerti bahwa putus asa hanyalah hak mereka yang jauh dari Tuhannya. Desir angin adalah himne bersyair janji, yang membangun kepercayaan kita, bahwa seremeh apapun yang kita lakukan saat ini, bisa saja menjelma menjadi hal luar biasa di kemudian hari.
Awan hitam adalah foto-foto ketersesatan kita saat memaknai arti sebuah kemerdekaan. Sementara debu membasah adalah gambaran jiwaku yang dulu kerontang, namun kini membasah, menjadi sejuk, menjadi segar.
Rio sahabatku, mulai saat ini, panggil aku Ika! Dan aku bukan muhrimmu. Merdeka…!! Wassalam…”
Petir meledak tiba-tiba. Aku kembali merasakan heran yang luar biasa, sama seperti saat kulihat Aan menangis pada kali yang pertama. Kuraih foto yang terpajang di atas meja kamarku. Foto Aan yang diam-diam kuambil dua tahun yang lalu saat ia panjat pohon mangga di samping rumahku.
Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan 'prolog' hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, aku bisa mencium aroma debu membasah. Sebuah aroma yang sangat aku suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagiku, meski kini seolah memiliki makna yang baru. Asing, aku belum begitu mengenalnya. Kulirik foto Aan. Lalu kulihat ia turun dan memakai mukena, berjalan pelan dan menunduk menenteng sajadah merah. Ini adalah pertama kalinya secara virtual aku melihat Aan ia sebagai seorang wanita. Dan hujan hari ini, telah mengajarkanku betapa selama ini aku keliru dalam memaknai kemerdekaan.
Selesai





0 comments:
Post a Comment