Lagu I believe I can fly milik R. Kally memekik dari handphoneku. Deborah. “ Reza…” suara lembut itu begitu lirih ku dengar. “ Temui aku sekarang juga. Penting. Aku menunggumu di taman faurmount dekat pohon willow, tempat biasa kita ketemu”. “ What’s going on, deb?ya…ya aku segera kesana”.belum sempat aku menjawab, plipsss…sejurus di seberang sana dia menutup telepon genggamnya. Tak ada kata-kata lain dalam perbincangan kami via telepon selain sebuah permohonan. Deborah Baldwin. Gadis yang tumbuh dalam kehidupan keluarga katolik, diam-diam lebih senang mendengarkan suara adzan dari arah mesjid yang satu-satunya berada di jantung Pensylpania, Philadelpia. Tak jarang Deborah membujukku menemaninya duduk di beranda mesjid hanya untuk mendengar lantunan adzan yang ia rasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya. Sampai suatu hari dia mengutarakan keinginannya untuk mengenal islam lebih jauh. Dari sinilah dimulai kedekatanku dengan Deborah melalui konsultasi seputar masalah islam untuk mencari jawaban atas keragu-raguannya selama ini. “ what a beautiful islam, reza”. Suatu hari dia ungkapkan kekagumannya itu. Ternyata perubahan Deborah akhir-akhir ini tak luput dari perhatian ayahnya. Walaupun Deborah belum sempat mengatakan kepada keluarganya untuk meninggalkan agama nenek moyangnya itu. Dan jelas sekali, suara penuh tekanan tadi sangat beralasan sekali bahwa Deborah masih di hantui rasa takut sampai sekarang, saat ini, ketika dia memintaku untuk menemuinya. Di taman Faurmount. Ku tengok jarum jam dinding yang mengarah ke angka lima petang. Inilah puncak salju membabi buta di luar sana, menggunungi jalan-jalan dan atap-atap rumah filadelfska, menumbuhkan perasaan malas warga philadelpia untuk keluar rumah. Kalau bukan karena permintaan Deborah, berat sekali kaki ini menapaki tumpukan –tumpukan salju yang siap menusuk sampai ke ubun-ubun kepala. Ku buka knop pintu rumah. Wushhh…seolah ada daya magnet yang menarik badai salju itu masuk ke seisi rumah. “Reza,jangan lupa mantelnya”. Madem Garcia pemilik rumah menyodorkan mantel coklat. “thank’s Mom. You very kind of me”. Aku sangat banyak berhutang budi pada Ibu angkatku ini. Suatu hari nanti akan ku balas semua kebaikan-kebaikanmu Nyonya. Hatiku berdesir. “Hati-hati Za,…salju kurang bersahabat sore ini”. Masih ku dengar teriakannya dalam gemuruh badai salju. * * * Memang betul apa yang di katakan Nyonya Garcia, salju sore ini begitu dingin tak kenal ampun menusuk tubuhku. tapi aku berusaha untuk terus berjalan menciptakan langkah seirama salju yang turun secara infrasonik karena kalah oleh gemuruh badainya. Ku rapatkan mantel hitam yang menyelimuti tubuhku. Namun tetap saja salju kian menusuk pori-pori kulitku. Aku tak boleh sesekali menghentikan langkahku dari terpaan badai ini. Kalau aku berhenti, berarti sama saja dengan memberi kesempatan kepada salju itu untuk membekukanku sampai mati. Karena ini merupakan pengalaman musim dingin di wilayah barat-tengah yang sudah tiga musim ku lewati. Tiga tahun yang lalu , beasiswa Unyamerika telah membawaku ke pintu gerbang temple, Philadelphia. Salah satu Universitas terbesar di Amerika Serikat yang berakreditas penuh dengan penyedia pendidik propesional terbesar di philadelpia. Aku mengenal Deborah karena kami mengambil jurusan yang sama. Hukum. Langit philadelpia masih terus saja mengamuk memuntahkan salju, menghujani sungai Delaware, menyelimuti gedung balai kota yang dibangun skyscraper, dan daun pohon-pohon maple dan elm pun gugur berjatuhan. Ku pandangi barisan toko etalase memasang close pada pintu kacanya pertanda “kami kedinginan”. Begitulah potret kota bersejarah ini antara september dan desember. Aku hanya ditemani temaram lampu yang berbaris memanjang di kawasan frontstreet. Tak ada kendaraan, tak ada orang lalu lalang, mereka terkunci di dalam rumah-rumahnya, terbius oleh mesin-mesin pemanas. Satu jam sudah aku berada di tengah badai berhibernasi dengan alam. Sungguh dingin yang membuncah. Bagaimana keadaan Deborah yang sedari tadi menungguku di tengah badai ini. Taman faurmount masih cukup jauh. Memerlukan waktu dua puluh menit yang di tempuh dengan berjalan kaki. Aku terus melintasi bekas bekas jalur-jalur kendaraan bermotor collowhill street, sebentar lagi aku akan sampai di lapangan parkir Benyamin Prangklin, kemudian perputakaan logam, free. Dan tibalah aku pada beberapa patung yang berbentuk relief –relief tentara. Itulah taman fourmount. Mataku meliar menjajahi hamparan taman patung-patung itu dan berhenti pada sosok gadis yang berdiri di dekat pohon willow. Begitu heroiknya berdiri di tengah terpaan badai, menantang angina redup dan tajam menyapu mukanya yang putih pualam, membiarkan gemercik salju putih yang melingkar-lingkar di bawah kaki Salvatore veragamonya. Dia menggunakan topi dari kulit beaver dan mantel hitam yang berbulu lembut pada bagian lehernya. Sungguh anggun. Dan semakin anggun ketika aku semakin mendekatinya. Kamu selalu terlihat cantik Deborah..aku hanya bisa berdecak dalam hati. “ Reza…”dia menghambur memeluk tubuhku begitu erat dalam tangisan pilu. “ Menangislah Deborah, keluarkan semua kesedihanmu sampai kamu benar-benar merasa tenang”. Ku usap rambut pirangnya dan perlahan dia melepaskan pelukannya. “ Za, aku harus pergi, go far away from here”. Deborah menghapus air mata di pipinya. “ Kenapa, Deb? Kenapa harus pergi?” “ Ayahku sudah mengetahui semuanya. Dia akan menarik aku dari temple dan akan memasukanku ke sekolah biarawati gravestone sialan itu”. Tangannya menunjuk kearah gedung yang menjulangkan salib diatasnya. “ Aku tidak mau jadi biarawati , za….aku tidak mau…aku harus meninggalkan philadelpia.”. Deborah sedikit muntab. “ Tenang Deb, kita akan selesaikan ini bersama-sama. Aku akan membantumu.” Aku takut kalau dia benar-benar akan pergi jauh dari philadelpia. Dari aku. “ Sudah cukup aku merepotkanmu dalam hal ini. What I do is gonna effect a lot of people, termasuk kamu, za”. “ Aku akan membantumu apapun yang terjadi, aku sayang kamu Deborah, aku…”. Kata itu tersekat dalam tebggorokan. Aku tak mampu melanjutkannya. Deborah hanya tersenyum. Dan senyuman itu seolah berkata aku tahu kau mencintaiku. Dan betul Deborah menjawabnya “ me to”. Sungguh. Dua kata itu mampu mengalahkan salju Desember sekalipun. Dan tiba-tiba saja tempat ini menghembuskan aroma syakura. Padahal yang ada hanyalah pohon willow tua. Begitulah pengaruh lima kata yang paling bertenaga “ cinta”. Di manapun dia akan tetap berpalet jingga. “ aku akan mengabarimu Za”. Senyum itu masih merekah di bibir merahnya. Kata-kata itu saja yang dia ucapkan di perpisahan kami. Kemudian dia berjalan dan masuk menuju Aston martin silvernya. “ Assalamualaikum”. Dia mengucapkan salam sebelum menutup pintu mobilnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena aku sadar akan kehilangan dia. Dan aku semakin yakin ketika Aston martin semakin jauh melaju ditelan badai.
* * *
Tepat sebelas bulan lalu, malam itu, kami duduk di resto city tavern dekat jendela yang menghadap pohon Elm dengan menu rosted dan wine sterling merlot. Indah. Itulah awal salju turun. Malam ini, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang anggun lewat email yang dia kirim padaku dalam bahasa Indonesia yang lugas sekali.
Untuk Yang kurindu
Reza fahlevi
Di Philadelpia
Reza.. Dalam setiap tidur dan zikirku saelalu ku panggil namamu berharap selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah, aku sehat dalam lindungan dan selimut kasih sayang-Nya. Mudah-mudahan kau pun demikian, walaupun musim dingin philadelpia tak pernah kenal ampun pada siapapun. semoga kita tetap di hujani rahmat dan ridhonya, di bukakan segala pintu kebaikan dan di jauhkan dari segala keburukan. Mungkin ucapan maaf yang pertama kali aku pinta dari mu. Entah berapa e mail yang kau kirim untukku, tak pernah aku balas. Aku tak ingin membuatmu khawatir dengan keadaanku, aku tak ingin mengabarimu ketika aku dalam keadaan yang pelik. Tapi itulah hidup, Za. Aku banyak belajar dari sana. Sampai mana kakiku akan melangkah , aku ikut. Sejauh mana badai akan membawa tubuhku aku pasrah. Reza... Sebelum perpisahan kita di pohon willow petang itu, aku rasa aku harus segera menentukan tujuan hidupku. Aku melangkah menuju mesjid itu dan mengumumkan keislamanku. Aku tak pernah lagi pulang ke rumah setelah pertemuan terakhir kita. Aku sudah berencana pergi jauh dari philadelpia. Passport sudah ku siapkan, tiket keberangkatan sudah ku pesan. Aku terbang meninggalkan tanah kelahiranku.
maaf cerpen ini belum selesai
PP TUNAS Perkuat Peran Orang Tua Dalam Melindungi Anak dari Penipuan Digital
-
*JPNN.com*, JAKARTA - Pemerintah telah menerbitkan Pemerintah Nomor 17
Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam
Pelindungan A...
52 minutes ago





0 comments:
Post a Comment