Tuesday, October 27, 2009

Ini Dia Lagunya...

Tuesday, October 27, 2009
Duh…bener2 lagu ini menmbangunkan saya dari kegelapan….awalnya pas lagi naik metro mini bulus-blok M, emang suasana pagi itu masih sepi…hanya terdengar sayup2 yang indah, belum bising sama hiruk pikuknya kota metropolis yang seperti biasalah….eh tiba2 si sopir muter lagu dari radio tape desknya….blum pernah denger lagu ini sebelumnya…suaranya hampir mirip ma JAcko….lama2 di dengerin jadi wah terharu juga…bikin hati nyep nyep….coba deh para ikhwan dan akhwat baca ni liriknya…..



ALLAH KNOWS_ZAIN BHIKHA

When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows, Allah knows
When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows, Allah knows

CHORUS
No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows, Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows, Allah knows
When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows, Allah knows
When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows, Allah knows

CHORUS
When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows, Allah knows

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows, Allah know
CHORUS (x2)
BRIDGE:
Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows


….Percaya deh ni lagu bagus end nyerep banget ke hati….klu perlu artiin liriknya

Imam Gozali

Al-Ghazzali Si Yatim
Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzali diasuh oleh seorang sufi miskin atas wasiat sang ayah sebelum ia meninggal. Ayahnya, penenun yang sangat mencintai para ulama itu, hanya meninggalkan sedikit harta saja untuk memenuhi kebutuhan al-Ghazzali, sampai habislah harta peninggalan yang sedikit itu. Kemudian si sufi meminta maaf karena tidak dapat melanjutkan wasiat sang ayah dengan harta benda yang dimilikinya. Akhirnya si sufi memasukkan al-Ghazzali di sebuah sekolah gratis yang menanggung semua kebutuhan para santrinya. Al-Ghazzalipun memulai kehidupannya yang baru dengan penuh semangat.
Bintang Yang Semakin Benderang
Al-Ghazzali di masa kecilnya sangat antusias dengan bidang fiqih. Dia belajar dari beberapa guru di daerah yang berbeda-beda, seperti Syaikh Ahmad bin Muhammad ar-Radzakani di kota Thusi, Imam Abu Nashr al-Ismaili di Jurjan, juga Imam Haramain al-Juwaini di Naisabur. Al-Ghazzali terus tumbuh dengan ilmu-ilmu yang ia tekuni.
Disamping bidang fiqih, al-Ghazzali juga sangat pandai dalam filsafat, ushul, manthiq, hikmah, dan juga ilmu perdebatan.
Pernah suatu ketika, di Askar, raja yang berkuasa mempertemukan al- Ghazzali dengan para tokoh dan alim ulama di dalam sebuah diskusi problematika agama. Al-Ghazzali mengeluarkan pemikiran- pemikiran cemerlangnya untuk problem-problem yang tengah mereka hadapi, dan mematahkan argumen lawan. Semua peserta diskusi terpana dibuatnya, sehingga merekapun mengakui kedalaman ilmu dan kelebihan yang al-Ghazzali miliki. Sejak itu raja memerintahkan al-Ghazzali untuk mengajar di madrasah Nidzamiah, Bagdad.
Jurang Terjal
Pamor al-Ghazzali kian bersinar, majelisnya selalu dipenuhi tak kurang dari 300 ulama dan pembesar kota Bagdad yang datang untuk mendengarkan pengajiannya. Al-Ghazzali kini bak kiblat bagi para penuntut ilmu.
Kian lama, al- Ghazzali merasakan polemik yang kian berkecamuk di dalam jiwanya. Dia merasa bahwa ilmu dan pengajarannya kini tak lagi murni untuk Allah Sang Pencipta. Melainkan untuk mendapat wibawa dan jabatan. Al-Ghazzali bermaksud meluruskan kembali niatnya dalam berdakwah dan membersihkankan lagi hati dan jiwanya. Akhirnya, diapun memutuskan untuk keluar dari Bagdad. Berhasil, al- Ghazzali dapat keluar menuju Makkah tanpa diketahui pihak kerajaan bahkan santri-santri yang pasti akan menahannya.
Pembentukan Diri
Sesampainya di Syam, al-Ghazzali mengasingkan diri dua tahun lamanya. Dia terus melakukan riyadhah dan mujahadah, serta selalu sibuk untuk membersihkan hati dan jiwanya. Tiap siang hari, dia menaiki menara masjid dan mengunci diri di dalamnya, menghabiskan waktunya hanya untuk Allah SWT.
Tahun berselang, seiring hati dan jiwanya terbentuk, al- Ghazzali rindu akan Makkah dan Madinah. Diapun menziarahinya. Dari situ, dia mulai terdorong untuk berdakwah dan berfikir untuk pulang ke tanah kelahirannya. Di perjalanan pulang inilah, al-Ghazzali mulai berdakwah di masjid-masjid yang ia lalui, sembari terus melenyapkan rasa cinta akan dunia dari hatinya. Di saat ini pula, ia mulai menulis salah satu karya fenomenalnya, yaitu kitab Ihya Ulumuddin, sebuah kitab rujukan dan pedoman bagi semua ahli tasawwuf sejak zamannya hingga aat ini.
Ibnu Najjar meriwayatkan bahwa al- Ghazzali tidak pernah mempelajari dan tidak pernah mempunyai guru hadits. Jadi, semua hadits yang disampaikan al- Ghazzali di Bagdad dan yang tertera di dalam kitab Ihya, semuanya merupakan ilham langsung dari Allah. Merupakan salah satu buah dari proses penyucian jiwa dan hati yang telah dia tempuh selama ini.
Coretan Emas Al-Ghazzali
Al-Ghazzali merupakan penulis yang produktif. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antaranya, Arbain fii Ushuliddin, Al-Wasith, Al-Bashit, Al-Wajiz dan puluhan kitab lainnya, baik yang terkait dengan masalah ushuluddin, aqidah, ilmu ushul, fiqih, filsafat, ataupun tasawwuf.
Terjawab sudah doa sang ayah, dahulu. Al- Ghazzali menjadi sebuah bukti kebenaran agama Islam pada zamannya.

Sang Mataharipun Tenggelam
Dinukil dari kitab Ats-Sabat Indal Mamat, diceritakan; pada subuh hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H, Al-Ghazzali berwudhu dan menunaikan shalat lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui malaikat maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum pagi datang bertepatan dengan umurnya yang ke-55 tahun dan dikuburkan di perkuburan ath-Thabaran.
Semoga Allah menjadikan kita pengganti-penggantinya. Amin.

Dokter Yang Tidak Komersil

Mengingat pentingnya kesehatan, dokter menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan. Di sekitar kita, jumlah rumah sakit tak bisa dikatakan sedikit, namun tak sedikit pula orang harus meregang nyawa hanya karena harga obat tak terjangkau. Untunglah kita mengenal Islam, agama sempurna yang diturunkan bukan sebatas dogma namun juga solusi berbagai problem kehidupan. Untuk masalah kesehatan, mari kita simak ayat berikut ini.

" ياأيّها الّذين أمنوا كتب عليكم الصّيام كما كتب على الّذين من قبلكم لعلّكم تتّقون” (البقرة: 183)

Allah swt memerintahkan kepada hambanya yang beriman untuk berpuasa. Dengan tujuan agar ketaqwaannya semakin meningkat. Selain di Bulan Ramadhan kaum muslimin dapat memperoleh pahala, rahmat, ridla dan maghfirah yang berlimpah dari Allah swt. kita juga dianugerahi dengan limpahan manfaat dari sisi kesehatan. manfaat yang sangat banyak sekali dan tiada taranya sebagaimana hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Nasai:
قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: عليك بالصوم فإنه لا مثل له
Berkata Abu Umamah: "Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu". Maka Rasulullah bersabda, "Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa"

Setelah melalui berbagai penelitian ilmiah pada organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya, ditemukan bahwa puasa secara jelas adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia
sehingga ia bisa terus melakukan aktivitasnya dengan baik. dan puasa benar-benar sangat penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang rusak, sekaligus sel-sel atau hormon atau pun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan berikut ini penjelasannya.

A. Mencegah Terjadinya Tumor
Puasa dapat berfungsi sebagai ’dokter bedah’ yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa akan bisa menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang bagus bagi tubuh untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas dengan baik. Puasa juga dapat menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan lemak. Sehingga terhindarlah tubuh dari tumor yang berbahaya.

B. Menjaga Kadar Gula Dalam Darah
Puasa sangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Puasa memberikan kesempatan kepada kelenjar pankreas yang baik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Apabila makanan kelebihan kandungan insulinnya, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah hingga akhirnya pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabetes. Dan sudah banyak dilakukan usaha pengobatan terhadap diabetes ini di seluruh dunia dengan mengikuti "sistem puasa" selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para penderita tersebut mengkonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Dan metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabetes tanpa menggunakan satu obat-obatan kimiawi apapun.

C. Dokter Yang Paling Murah

Puasa adalah ’dokter’ yang paling murah. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah ketika memulai ifthar (berbuka) dari puasa hanya cukup dengan memakan beberapa biji kurma dan bukan yang lain, atau Rasulullah hanya meminum seteguk air putih kemudian beliau shalat. Tahukah anda, ternyata gula yang ada dalam kurma akan sangat mudah dicerna dan dikirim ke dalam darah, dan pada saat yang sama ia memberikan energi atau kekuatan kepada badan.
Adapun jika kita langsung makan daging setelah lapar karena puasa, sayuran, dan
roti, maka tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan
menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Inilah sebabnya terkadang kita sudah berbuka tapi masih lapar. Akhirnya, orang yang berpuasa itu kurang bisa memperoleh manfaat secara sempurna dari aktifitas puasanya. bahkan ia akan tetap
overweight.

D. Mencegah Penyakit Asam Urat.

Penyakit asam urat (gout) disebabkan karena kelebihan makanan yang banyak mengandung asam urat seperti hati, otak, jeroan, sarden, remis, angsa, alkohol, makanan yang diawetkan dalam kaleng, kacang-kacangan, emping, kembang kol, bayam, dan asparagus. Itulah yang menyebabkan kelebihan asam urat yang menumpuk di persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Juga jika kelebihan makan daging yang mengandung asam urat, tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging, akibatnya asam urat akan menumpuk di persendian. Dan ketika persendian terkena asam urat, maka ia akan membengkak dan memerah dan disertai nyeri yang luar biasa.

Dari penjelasan-penjelasan diatas maka kita tahu bahwa puasa memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat banyak dan fakta diatas menunjukkan akan kebenaran Firman Allah Swt: “…........dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 184). Namun perlu difahami bahwa daasr tujuan berpuasa adalah iimaanan wa ihtisaaban (atas dasar keimanan dan mengharap ridla). Adapun kemanfaatan adalah bentuk kemurahan Allah yang diperuntukkan bagi hamba yang menjalankannya.

Monday, October 26, 2009

Sejarah Perang Badar

Monday, October 26, 2009
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah.

Pada masa awal perkembangan Islam, umat Islam benar-benar menyadari bahwa posisi mereka sangatlah lemah dan tidak leluasa bergerak. Terlebih pada saat itu masyarakat di daerah tersebut yang kebanyakan dari keturunan Quraisy tidak akan pernah membiarkan umat Islam memperoleh kebebasan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya genderang perang telah ditabuh oleh orang-orang kafir Makkah sejak Rasulullah saw mengumandangkan risalah dakwah. Sehingga dengan cara bagaimanapun, mereka menghalalkan darah serta harta benda umat Islam. Keadaan seperti itu berlangsung dari waktu ke waktu sehingga umat Islam banyak yang meninggalkan Makkah dan secara tidak langsung harta benda kaum muslimin pun telah jatuh di tangan kaum kafir Makkah.

Apa yang dilakukan oleh orang kafir terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada kota Makkah saja, melainkan di kota yang menjadi kehidupan baru umat Islam, yaitu Madinah juga selalu dalam intaian orang-orang kafir. Di bawah pimpinan Kurz bin Habbab al-Fihri mereka terus memprovokasi kaum kafir lainnya untuk menyerang, menteror dan menguasai harta benda milik kaum Islam yang berada di Madinah.

Dengan keadaan seperti ini timbulah dalam diri mereka keingingan untuk tidak terus-menerus dalam keadaan tertindas. Untuk itu umat Islam pun mempersiapkan segalanya dengan cara berlatih, agar mereka tidak lagi dilecehkan. Dengan adanya hal ini sudah sewajarnya apabila orang-orang kafir menerima dan mendapatkan balasan atas semua penindasan yang yang mereka lakukan terhadap umat Islam pada waktu itu

Oleh karena itu, begitu Rasulullah mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan yang bersama 40 orang bergerak dari syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhanya mencapai seribu ekor onta, maka beliaupun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak menghadang rombongan Abu Sufyan. Adapun jumlah pasukan kaum muslimin pada saat itu hanya sekitar 313 orang yang terdiri dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Abu Sufyan yang terkenal dengan kecerdikannya mencoba mengorek informasi dari setiap rombongan orang yang ditemuinya hingga akhirnya ia mendengar kabar dari beberapa orang yang ditemuinya bahwa Nabi Muhammad saw telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk mencegat rombongan yang sedang membawa harta perdagangan mengetahui hal ini ia pun segera berhati-hati dan mengambil jalur perjalanan yang lain seraya mengirim utusan kepada penduduk Quraisy yang ada di kota Makkah untuk meminta bantuan maka di kirimlah Damdam untuk mengabarkan hal tersebut dengan mengatakan kepada penduduk Makkah “Hai orang-orang Qurasy, Muhammad dan para pengikutnya menyerangnya rombongan Abu Sufyan yang membawa unta-unta tunggangan kalian, tolong! tolong!” kota Makkah seketika itu langsung gempar karena kafilah terkaya sepanjang tahun dari pihak mereka kini sedang dalam bahaya.

Abu Sufyan tidak berpangku tangan begitu saja menanti uluran bantuan dari penduduk Quraisy. ia curahkan segenap kepiawaiannya agar mereka tidak jatuh ke tangan kaum muslimin. Abu Sufyan kemudian segera kembali ke tengah rombongan dan mengalihkan jalur perjalanan yaitu daerah pesisir pantai demi manghindari daerah Badar menuju ke kiri sehingga rombonganpun terselamatkan.

Di lain pihak pasukan Kafir Quraisy bergerak dengan penuh kesombongan dengan kekuatan yang besar untuk menyelamatkan Abu sufyan dan rombongan dari incaran kaum muslimin. Namun ternyata rombongan tersebut telah terselamatkan tetapi setelah mendengar berita tersebut mereka bukannya kembali menuju ke Makkah akan tetapi itu Abu Jahal berkata “Demi Tuhan, kita tidak kembali kecuali setelah sampai di Badar dan tinggal di sana selama tiga hari kita akan memotong hewan sembelihan memberi makan menuangkan khamr dan mendegarkan lagu dari para biduan. Kita lakukan ini agar orang-orang Arab segan kepada kita untuk selama-lamanya.” diantara rombongan ada sebagian yang tidak menghiraukan Abu Jahal dan kembali pulang ke Makkah.

Di balik bukit agak kesebelah timur laut kaum muslim sedang membongkar kemah. Nabi tahu bahwa mau tidak mau mereka harus mencapai perairan di Badar sebelum para musuh tiba di sana maka beliau memerintahkan untuk melakukan pembongkaran secepat mungkin. Baru saja mereka mulai hujan pun turun beliau menegaskan bahwa itu adalah rahmat Allah. sebuah berkah dan restu bagi mereka. Hujan menyegarkan tubuh mereka tetapi di sisi lain hujan merepotkan para musuh yang sedang mendekati Bukit Aqanqal yaitu lembah yang berlawanan arah dengan Badar. setelah itu rombongan Rosulullah bergerak menuju ke sebuah sumur besar yang terdekat dengan musuh dan menutup sumur-sumur yang ada di sekitarnya dan membangun waduk untuk kepentingan mereka sertu memenuhi kantung-kantung air pasukan muslim.

Malam harinya Allah membuat kaum muslimin tenang dan bisa tidur nyenyak sehingga mereka bangun dalam keadaan segar bugar. Hari itu adalah hari jum’at tanggal 17 maret 623 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyyah. Begitu fajar menyingsing tentara Kafir Quraisy dengan jumlah tak kurang dari 1000 orang bergerak maju dan mendaki Bukit Aqanqal. Nabi merapihkan barisan dan ketika Kaum Muslim diperintah untuk maju, sebenarnya mereka tidak maju sendirian seperti yang dijanjikan oleh Allah kepada Nabi bahwa “Aku akan menolongmu dengan seribu pasukan malaikat yang datang pasukan demi pasukan” (Q.S. 8: 12). Namun, kahadirannya para malaikat hanya terlihat atau terdengar oleh segelintir orang saja misalnya ada salah seorang tentara Islam sedang mengejar musuh tiba-tiba kepala orang yang dikejarnya itu jatuh ketanah sebelum ia berhasil menjangkaunya. Ada sebagian lagi melihat sekilas tentara berkuda dengan memakai surban kuning dan putih.

Dengan janji yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw dengan medapatkan kemenangan akhirnya meletuslah perang antara kedua belah pihak. Tak lama tentara kafirpun tercerai berai, tak sanggup lagi melanjutkan pertempuran dan banyak sekali korban dari pihak Kafir Quraisy diantaranya adalah Abu Jahal. Setelah pasukan Kafir Quraisy mundur dari medan peperangan Nabi pun memerintahkan agar mayat-mayat Kafir Quraisy dikuburkan kedalam satu lubang.

Pagi harinya Nabi bersama seluruh pasukan berangkat kembali menuju ke Madinah dengan membawa hasil rampasan perang (Ghonimah) dan sejumlah tawanan. Di lain pihak Kafir Quraisy kembali ke Makkah dalam kelompok-kelompok kecil yang diawali dan diikuti oleh beberapa orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri.

Goodby Dejavu

Oleh : Zi'e
Cerpen ini di dedikasikan untuk para calon Wisudawan Agustus
" keep up and never give up "
Malam pekat, 16 April 2009 , kubaringkan tubuhku dalam ranjang bersusun berharap imsomnia tidak akan datang lagi setelah malam ini. Masih ku pandangi skripsi yang dari tadi ku pegang erat, membayangkan hari esok yang menegangkan, besok aku harus mempertanggungjawabkan skripsi yang telah aku revisi beberapa kali di depan penguji. Bermacam antisipasi telah aku tata dalam menghadapi kemungkinan aku harus gulung tikar. Ku habiskan seluruh waktuku selama beberapa bulan terakhir ini untuk mempersiapkan sidang munakosah dengan belajar bersungguh-sungguh,mengasah otak, memeras keringat, meng-up grade memori-memori yang kian tumpul setiap hari sampai – sekali lagi aku menyebutkan penyakit terkutuk itu – imsomnia tak jarang menyergapku hampir setiap malam. Perasaan takut, gembira, gugup berbaur bergemuruh dalam ruang dadaku. Takut kalau seandainya kelulusan itu jauh di depan mata. Dan tangan tak mampu menjangkau mimpi-mimpi itu, yang ada hanya gigi yang memggigit bibir kelu. Apa yang nanti harus di tanggung kedua orang tuaku yang tujuh tahun lalu melepaskanku di pesantren ini dengan penuh linangan air mata? Kekecewaan pastinya. tapi ada seberkas kebahagiaan berputar-putar di kepalaku. Dengan separuh langkah lagi aku telah menyelesaikan studiku, merancang prospek dalam peta hidup yang matang utuk masa depan. Absolutely. Upps…. Peta hidup? Masa depan. Hey…berarti dengan kata lain aku sudah siap menjadi salah satu dari jutaan orang-orang muda yang berizasah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan. Itulah ketakutan yang kualami ketika mengingat bekerja. Mengingat pekerjaan tak mudah dicari seperti mencari ikan di lautan yang tiap hari para nelayan lakukan. Jelasnya, bahwa aku seperti halnya jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan republik ini belum bisa menampung orang-orang sepertiku. sekali lagi, sempit sekali lapangan kerja itu sobat.

Opsi kedua adalah terjun nekat dimasyarakat dengan kadar ilmu kita yang …ahh. Ini juga menguak rasa pesimisku yang menggrogotiku pelan-pelan. Apa yang mungkin ku capai dan ku sumbangkan bagi umat manusia dalam pemahaman dan keilmuan masih di bawah standaritas? apakah hidup ini pantas di jalani tanpa kemanfaatan bagi masyarakat ? sedangkan aku seorang strata satu sarjana hukum jebolan salah satu pesantren terbonafid di wilayah Bogor . Dilema, memang dilema.

Pikiranku sudah terlalu jauh menerawang mendobrak langit-langit kamarku, melewati asteroid dan ribuan meteor,melintasi zona yang paling teratas, menembus neptunus, dan menguap di sana . Sampai aku tak sadar hampir setengan dari malam aku berpetualang dalam khayalku. Sekarang sudah pukul 11.00 malam. Kulihat teman-temanku sudah terkapar dalam ranjang-ranjang susunnya, terhisap dalam dunia bawah sadar. Dan aku berusaha memejamkan kedua mataku, walau agak sedikit susah terjaga, akhirnya sayup-sayup hitam mulai melintas di mataku. Dan akupun tertidur.



* * *

Aku terperanjat kaget. Kemudian bangun, duduk terpaku seperti linglung. Aku baru sadar setelah jendela kamar ini menyelinapakan hawa duha dan jarum jam berteriak mengejekku “ lihat angka delapan. Dasar pemalas!!!”. Aku telah meninggalkan subuhku dan yang paling menggetarkan seluruh tubuh, aku terlambat untuk mengikuti sidang munaqosah. Tak ada satupun teman-temanku yang nampak di ruangan ini yang tiba-tiba terasa pengap bagiku. Kemana kalian pergi, mengapa tidak membangunkanku.

Dalam keadaan panik yang sungguh tak terperikan, aku segera mencuci muka tanpa memperdulikan odor tubuhku yang menghembuskan aroma hangus.dan pakaianpun begitu saja meleket sejadinya di tubuhku.

Ruang ujian yang tak lain adalah kelas kami, kampus kaca terletak cukup jauh dari kamarku, sehingga aku harus setengah berlari memompa jantungku agar tak terlambat. Dan di sana ku lihat ke empat belas temanku yang sudah duduk di kursi-kursi besi berbaris yang diletakan menghadap dua kursi dan satu meja diantara kedua kursi tersebut. Jika di lihat dari arah pintu luar dan jika dibayangkan apa yang terjadi dalam ruangan di balik pintu kaca ini, jarak antara kursi besi dan dua kursi yang berhadapan dengan meja diantaranya yang tak lain adalah singgasana Drs Karim Sudrajat MBA, pengujiku, dapat ku simpulkan bahwa ini adalah ruang bagi langkah-langkah terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum mati, sebab dalam ruangan itulah para akademis menggantung nasibnya.

Aku langsung masuk dan duduk pada kursi yang sudah disiapkan untukku diantara para calon wisudawan yang lain.

“ fauzul Adzim dengan nomor urut 08!” pendamping penguji itu memanggil namaku lewat walky talky yang dipegangnya. Aku mendapat kesempatan pertama untuk menduduki kursi listrik. Aku segera maju dan duduk di depan Drs Karim. Jarak kami kira-kira hanya satu meter dengan pemisah sebuah meja yang di penuhi tumpukan-tumpukan manuskrip.

Drs. Karim dengan seksama mengamatiku dari ujung rambut sampai bagian tubuhku yang tertutupi mejanya dalam keadaan duduk. Tak surut skeptis dalam pandangannya. Posisinya adalah pormasi yang jitu untuk mengaduk-aduk adrenalinku. Keringatpun keluar dari dahiku, ku usap keringatku agar aku tak terlihat gugup. Dan ku longgar-longgarkan dasiku yang kini rasanya mulai mencekik leherku.

“ kamu Fauzul Adzim?” dia mengambil skripsiku yang berada dipaling atas tumpukan mejanya. Kini tatapannya beralih pada kertas-kertas itu.

“ Iya Pak.” Aku sedikit mendongakan kepalaku berusaha menghilangkan ketegangan yang sedari tadi berkelebat dalam ruang dadaku. Ku tekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya.

Dia membolak-balikan lembar demi lembaran skripsiku. Matanya memicing skeptik, kedua ujung alisnya bertemu. Raut wajahnya menyerupai goresan-goresan pedang yang siap dihunuskan ke mataku. Dan ku lihat sisiran rambutnya yang kelimis oleh luluran tanco dipaksa untuk mengikuti gaya rusell crow “skizofrenik” dalam beautiful mind. Sungguh memperihatinkan, seorang magister yang sudah menjadi korban mode, ter-brainwash oleh kumkuman westernisasi yang tengah menjamur di bumi pertiwi ini, harus berjuang mati-matian melawan tuntutan idealisme. Sesekali dia mengangkat wajahnya seringai memancarkan sinyal “skiripsi apa ini. Rongsokan..!!.”.aku semakin khawatir ketika dia terus memperhatikan lembaran-lembaran pada bab pertama kemudian langsung membuka pada bab kesimpulan. Tak lama dia tutup lembaran-lembaran itu sambil menarik napas dalam-dalam.tak dinyana, dia membantingkanya tepat di depan wajahku.

“ skripsi kamu…” matanya terus menatap tajam bak singa bertemu mangsa “ di tolak !!!”. kata-katanya begitu getas meliuk-liuk telingaku.

“ Ma..maaf Pak?” Aku ingin memastikan apakah Drs Karim tidak sedang membual.

“ Ya… skripsi kamu tidak diterima”

“ ta…tapi, kenapa pak? Saya mampu mempresentasikan hasil penelitian saya ini.”

“Skripsi kamu ini sudah tidak jelas pemabatasan dan perumusan masalahnya. Tidak perlu kamu presentasikan!!” dia menaikan nada suaranya.

“ saya mohon pak. Beri saya kesemapatan “ aku tetap berusaha dalam keadaan tenang.

“ Penelitian yang kamu buat ini tidak jauh dari barang-barang yang ada dalam tong sampah. Coba lihat! tak ada korelasi judul yang kamu angkat dengan kesimpulannya. Ini yang kamu sebut skripsi”.Mudah sekali pekikan pahit itu keluar dari mulutnya. Dia tidak merasakan betapa penuh perjuangan ketika harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas itu, tetapi begitu mudah sekali bolpoint sialannya itu mencoret-coretnya.

“lebih baik kamu buat penelitian yang baru, yang lebih bermutu. Kalau seandainya tidak, ya….terpaksa kamu harus mundur sampai tahun depan”. Sepertinya pak karim sudah tidak punya toleran lagi. Dia sudah mengikis semua harapan-harapanku.

“ Pak,…saya mohon pak…”. Aku tidak tahu sudah keberapa kalinya aku memohon kepada Drs. Karim. Tapi tetap saja nihil. Dia tetap kukuh pada pendiriannya. Sampai akhirnya dia memanggil dua orang laki-laki yang tiba-tiba masuk dari arah pintu dengan berseragam hijau lumut yang bertuliskan “ security” di bagian kiri dadanya. Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini, sejak kapan pondok pesantren ini menyewa dua polisi gadungan ini, melihatnya pun belum pernah. Dan tanpa basa basi, sekonyong-konyok dia mencidukku, memberondongku dari tempat dudukku ke luar ruangan. Karena tak mampu melawan kerasnya genggaman tangan security itu, Aku meronta, berteriak meminta tolong sejadinya. Tapi tak ada satupun teman-temanku yang peduli.mereka hanya diam mematung menyaksikan kekerdilanku.

“ tolong teman-teman, tolongin ana dong…,tolooong…..tolooong.”

Tiba-tiba terasa yang ada mengoyang-goyangkan tubuhku. Bukan kedua sekuriti itu, bukan juga teman-temanku yang dari tadi hanya memaku tubuhnya dalam kursi-kursi berbaris. Secara langsung, aku dapat merasakan tubuhku yang berevolusi dari dua tempat yang berbeda. Fuga? Ini bukan fuga.tapi semacam keadaan trance. Dan aku lebih yakin ketika setelah melihat sosok tubuh yang tak asing dalam sayup-sayup berdiri di sampingku dan tangannya memegang bahuku. Burhan.

“ Jul, bangun Jul! ”. suaranya mendobrak ruang pekat di kepalaku dimana aku yang terkunci dalam perangkap alam bawah sadar.ruangan kamar ini dan Burhan, temanku yang pertama kali aku lihat. Ku coba rangkaikan pecahan-pecahan memori dalam otakku, ku tepiskan sayup-sayup bias pada mataku. Dan ku simpulkan dalam dua buah kata, mimpi buruk.

“ Jul, kamu teriak-teriak tadi. Mimpi apaan sih?” burhan mengusap butir-butir keringat di dahiku.

“ Mimpi buruk mas Bur. Jam berapa sekarang mas?”. Aku bangun merenggangkan sendi-sendi dan ototku.

“ Jam empat kurang seperempat. Sebentar lagi adzan subuh. Tahajud dulu yuk. Biar agak tenang”. Burhan menghambur ke ruang tengah dan menggelar sajadahnya. Aku segera terdorong untuk mengambil air wudhu. Dan kemudian mengikuti tahajjud di belakangnya. Tak lama dentuman yaa hayyu yaa qoyyum menggema, merambah seantero pelosok pesantren. Membangunkan seluruh santri yang terlelap dalam buai mimpinya.

* * *

Pagi, 17 april 2006 , sinar mentari menyapa lewat jendelaku yang melukiskan pagi yang indah. Seindah perasaan hatiku saat ini. Ku kenakan pakaian terbaikku sepanjang masa, demi satu acara yang sangat penting, sidang monakosah, mimpiku yang hilang dalam lipatan-lipatan malam tadi. Semoga itu bukanlah dejavu. Dan telah ku tanamkan dalam diriku tujuh huruf yang paling esensial “ optimis” maka aku percaya semangat, tawakal, dan percaya diri dapat menaklukan apapun. Kulangkahkan kaki bismillahi tawakkaltu untuk meraih mimpi-mimpiku. Sidang munakosah menungguku. Ayah, ibu please pray for me.

Hujan Dan Kemerdekaan

Oleh : Faid

Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan prolog hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, kami bisa mencium aroma debu membasah, menyerap tetes demi tetes rombongan air dari langit. Sebuah aroma yang sangat kami suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagi kami, yang membuat hati kami selalu ingin berteriak “Merdeka…!! Merdeka…!!”

Waktu berlalu, Tuhan memang telah menulis skenario hidup kami, dengan memilih scene-scene tertentu yang harus kami perankan saat langit memberondong bumi dengan pelor-pelor hujan. Hujan selalu menjadi saksi bagi setiap adegan dimana kami hidupkan karakter penokohan kami. Yah, kamilah protogonis menurut versi kami, dan antagonis menurut mereka yang tidak menyukai kami. Kamilah aktor dan aktris yang selalu memerankan bagian terklimaks pada plot hidup saat hujan turun ke bumi. Singkat kata, hujan adalah background bagi setiap pergulatan kami.

Termasuk siang ini, aku dan makhluk cantik yang tomboy itu berada di sebuah salon tanpa pelanggan di samping SMU. Kami telah sepakat untuk merayakan kelulusan kami dengan mencukur habis kepala kami.



“Aan” itulah potongan nama Anika Aprilia yang sengaja ia pilih sebagai panggilannya. “Biar maskulin!” ujarnya suatu ketika. Kami bersahabat sejak Tuhan mentakdirkan kami untuk bertemu di kelas satu SMU. Biar kami bersahabat namun kami punya prinsip, “tak ada hari tanpa bertengkar”. Hampir dalam segala hal, Aan selalu meminta pendapat dariku dan hampir semua pendapat itu selalu ditolaknya mentah-mentah. Begitulah.

Tiga tahun kami diaduk oleh waktu dalam kawah candra dimuka pendidikan. Tiga tahun kami dijejali aksara-aksara pengetahuan. Kata mereka - yang biasa kami panggil ‘guru’ – itu semua sanggup merubah nasib kami. Tiga tahun kami kenyang dengan doktrin serta undang-undang. Dan hari ini, momen besar akan terjadi. Ijazah kelulusan bagi kami sesakti amnesti dari penguasa orde baru yang akan membebaskan kami dari ‘penjara’ ini. Dengan nilai yang tak sempat kami lirik, kami cukup puas. Kami lulus.

Hari ini, langit yang mendung seolah mengisyaratkan sesuatu. Perpisahan dilaksanakan di aula sekolah dengan acara yang tak lebih menarik dari hujan yang mulai turun satu persatu. Kamipun nekad tidak mengikuti acara seremonial yang mesti begini mesti begitu. Sebab nama kami tak mungkin disebutkan dalam urutan siswa berprestasi. Kami lebih memilih cubitan butir-butir hujan yang membawa aroma debu membasah yang dapat melahirkan jiwa baru kami untuk menyongsong kemerdekaan demi kemerdekaan sesusai pemahaman kami.

Di mata kami, hujan adalah kemerdekaan bagi butir-butir air yang seolah baru terbebas setelah bertahun-tahun terpenjara di bui angkasa. Petir adalah kemerdekaan bagi cahaya maha cepat untuk beraksi seenaknya, mencari perhatian manusia, menebang pohon dan merusak hutan tanpa harus menjadi buronan karena kasus illegal logging. Desir angin adalah kemerdekaan bagi udara yang berlari-lari saling kejar, seperti bocah kecil yang riang bermain gobag sodor. Semua adalah bagian dari kemerdekaan yang menjadi buruan hidup kami. Kami selalu ingin merdeka, termasuk merdeka dari tuntutan peraturan dan batasan-batasan.



Rio… lihatlah!! Hari ini kita temukan dua kemerdekaan; kemerdekaan dari keharusan menyisir rambut dan kemerdekaan dari gerbang sekolah” teriak Aan parau di tengah lapangan bola sekolah kami. Sore itu, semua guru, siswa dan wali siswa telah pulang. Acara perpisahan selesai. Sekolah sepi, namun gerbang belum terkunci. Kami menyelinap masuk untuk sekedar melambaikan tangan tanda perpisahan dengan beberapa lokal bangunan yang di mata kami selama ini selalu terlihat seperti jeruji besi. Butir-butir hujan membersihkan kepala botak kami dari sisa-sisa potongan rambut. Tangan kami terlentang, kepala kami tengadah seperti turut merayakan kemerdekaan hujan dari penjara angkasa. Sementara hati kami tak henti meneriakkan mars tanpa irama “merdeka..!! merdeka..!!”

Tapi tiba-tiba kurasakan sebuah keheranan yang luar biasa, layaknya seorang ibu yang melihat bayinya lahir dengan jari tak sempurna. Aku melihat mata bulat Aan keruh, berkaca-kaca dan wajahnya kian memerah. Hari ini adalah kali pertama telingaku mendengar isak dari seorang tomboy yang tak pernah kulihat sebagai seorang wanita ini.

“Tapi Rio…” air mukanya naik turun “Hari ini pula aku akan kehilangan buruan hidup kita selama ini” hening sejenak “aku akan kehilangan seluruh kemerdekaanku…” tangis keras pun pecah. Rombongan bangau melintas, seolah mengajak kami untuk turut menikmati kebebasannya. Angin bertiup seolah protes dengan ‘teks proklamasi kemerdekaan’ kami yang tiba-tiba dihentikan pembacaannya oleh takdir. Sunyi memeluk persahabatan kami yang seolah dipaksa beku oleh nasib.

“Kamu bicara apa sih, An..?” tanyaku penuh curiga. Aan menunduk “Hari ini aku akan terpenjara di sebuah bui, dimana setiap yang kulihat adalah batasan dan semua yang aku temui adalah peraturan”.

“Maksudmu?” selidikku tak mengerti. “Ayahku… ayahku Rio, kau tahu kan, seperti apa ayahku?” aku mengangguk pelan, “kemarin ayahku bilang, cuma pesantren yang bisa menghentikan kenakalanku. Ayah akan memasukkanku ke pesantren Rio!!” “Hah!! Kamu bercanda kan An?!” “Maaf Rio, aku lagi nggak ada mood buat bercanda” “T...tapi…” ucapku terhenti “sudahlah Rio, aku anak tunggal, akulah satu-satunya yang dapat diandalkan orang tuaku” “lantas kamu tinggalin aku sendirian, begitu?!” wajah Aan semakin memerah, lalu tiba-tiba membentak “Aku juga masih ingin selalu bisa menjitak kepala botakmu itu Rio, tapi gimana lagi…?!” Aan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Tapi mengapa sebelumnya kau nggak pernah cerita An?” tanyaku sewot. Perasaanku campur aduk. “Aku hanya nggak mau kau ikut bersedih” jawabnya tak kalah sewot. “Tapi kan kamu bisa menolak ide gila ayahmu itu?” “Ini bukan ide Rio, ini pilihan wajib!” “An…” sampai di sini suaraku terhenti. Aku tak punya ide untuk mengucapkam sesuatu. Aku hanya bisa membayangkan sahabat yang tak pernah kuanggap sebagai seorang wanita itu akan jauh dariku.

Aku akan terpisah dari patner bolos sekolahku. Aku akan rindu dengan kenakalannya, aku akan kangen dengan kebadungannya, aku akan kesepian dengan ide-ide jailnya, aku akan sangat kehilangan seorang yang selalu meminta sekaligus menolak pendapatku mentah-mentah.

Aan menjatuhkan badannya, setelah seluruh bangunan ‘prasasti kemerdekaan’ di hatinya terlebih dahulu luluh lantak. Di atas lapangan hijau yang basah ia duduk dan memeluk kedua lututnya. Kulihat tangan Aan meremas rumput hijau tak berdosa. Lalu mencabut dan melempar sekenanya. “Di pesantren mana An?” suaraku kini merendah, bergetar memecah diam. “Jawa Timur” Aan menghela nafas, aku masih terperangah “bermimpipun aku tak pernah Rio…” tangisnya kembali pecah. Aan yang dulu kukira tak punya air mata kini menangis kencang sekali. Sebentar lagi siswi SMU yang belum hafal rukun wudlu ini akan tersungkur di pojok masjid pesantren mengeja alif, ba, ta agama. Berpisah dengan teman-temannya, sekaligus berpisah dengan kemerdekaannya. Aku tak bisa bergerak. Deretan bangunan kelas tanpa siswa tampak condong seperti turut merasakan kepedihan ini. Pohon beringin terlihat keriput pucat pasi seperti juga tersayat sembilu waktu. Sementara petir masih menyambar-nyambar di angkasa tak tahu marah pada siapa.



Setahun berlalu.

Sore ini aku berdiri di depan jendela kamarku yang kubuka lebar-lebar, bukan sekedar untuk menanti turunnya hujan, namun juga untuk membaca surat. Sebuah surat yang tak lain kuterima dari Aan, mantan sahabat semasa SMU ku yang tak lagi ku ingat berapa kali orang tuanya dipanggil pihak sekolah karena hobi bolosnya. Dialah satu-satunya manusia yang kini telah membuatku paham makna sebenarnya dari kata ‘rindu’.

“Assalamu ‘alaikum…Rio apa kabar? Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu, sehingga setiap waktumu adalah kesempatan untuk kata perbaikan. Rio, sejak sore di lapangan sekolah kita setahun yang lalu, aku semakin suka melihat hujan. Bahkan aku ingin menjadi hujan yang seolah mendapat ‘remisi’ dari bui angkasa. Tapi sayang, ayahku membangunkanku dari mimpi indah tentang sebuah kemerdekaan. Aku dipaksa masuk dalam koridor keterjajahan. Aku merana.

Namun, seorang pria bersorban telah mengajariku bagaimana cara bermimpi. Bagaimana cara meneropong kemerdekaan dari titik yang tepat, sehingga aku dapat melihatnya secara utuh. Aku jadi tahu kemerdekaan bukanlah sinonim dari kata kebebasan. Namun justru kemerdekaan adalah batasan, maksudku batasan logis untuk sebuah ekspresi, sebab setiap manusia punya hari depan. Apa yang kita lakukan hari ini, adalah torehan tinta, dimana lukisan dalam bentuk sempurna akan terlihat di kanvas masa depan. Sehingga hanya dengan kemerdekaan untuk berjuang melawan serdadu nafsu, lukisan itu akan terjaga dari noktah-noktah pencemarannya.

Rio sahabatku, lalu oleh beliau, aku dididik untuk tidak sekedar memotret mimpiku, namun juga meng’afdruk’nya. Aku paham.

Rio, beliau mengajarkan bahwa hidup dalam segala aspeknya adalah gerakan menuju perubahan. Dan kalau bukan karena aku tak lagi sanggup menghitung keriput yang ada di wajah ayah, maka aku tak akan pernah sempat belajar untuk berubah. Kalau bukan karena aku tak lagi tahu jumlah helai uban yang ada di kepala ibuku, maka secuilpun aku tak akan bergeser dari kebiasaanku dulu. Dan jikalau bukan lantaran aku ingin membuat mereka berseri, maka sedikitpun aku tak sudi untuk mengantri lama demi mendapat jatah nasi di tempat ini.

Rio, hari ini Aan telah mati dan lahirlah Anika Aprilia, yang juga masih selalu ingin merdeka. Aku masih suka hujan, bahkan aku ingin menjadi hujan. Tapi aku punya definisi baru tantang hujan dan sejumlah prolognya. Bagiku kini, hujan adalah garis start dimana secara mental aku berevolusi dari buta menjadi bermata, seperti butir hujan yang kadang turun tiba-tiba, melesat cepat karena faham bahwa terlalu banyak tanah gersang di bumi yang perlu segera disirami. Petir adalah dentuman semangat yang membuatku siuman dari ketidaksadaran purba, sehingga aku mengerti bahwa putus asa hanyalah hak mereka yang jauh dari Tuhannya. Desir angin adalah himne bersyair janji, yang membangun kepercayaan kita, bahwa seremeh apapun yang kita lakukan saat ini, bisa saja menjelma menjadi hal luar biasa di kemudian hari.

Awan hitam adalah foto-foto ketersesatan kita saat memaknai arti sebuah kemerdekaan. Sementara debu membasah adalah gambaran jiwaku yang dulu kerontang, namun kini membasah, menjadi sejuk, menjadi segar. Rio, beruntung sekali aku telah menemukan betapa sempitnya pemahaman kemerdekaanku dulu pada keluasan ilmu pria bersorban itu. Guruku.

Rio sahabatku, mulai saat ini, panggil aku Ika! Dan aku bukan muhrimmu. Merdeka…!! Wassalam…”

Petir meledak tiba-tiba. Aku kembali merasakan heran yang luar biasa, sama seperti saat kulihat Aan menangis pada kali yang pertama. Kuraih foto yang terpajang di atas meja kamarku. Foto Aan yang diam-diam kuambil dua tahun yang lalu saat ia panjat pohon mangga di samping rumahku.

Gerimis turun begitu cepat hanya setelah beberapa menit alam menunjukkan 'prolog' hujan dengan petir dan desir angin. Seperti biasa, aku bisa mencium aroma debu membasah. Sebuah aroma yang sangat aku suka, aroma yang selalu menumbuhkan jiwa baru bagiku, meski kini seolah memiliki makna yang baru. Asing, aku belum begitu mengenalnya. Kulirik foto Aan. Lalu kulihat ia turun dan memakai mukena, berjalan pelan dan menunduk menenteng sajadah merah. Ini adalah pertama kalinya secara virtual aku melihat Aan ia sebagai seorang wanita. Dan hujan hari ini, telah mengajarkanku betapa selama ini aku keliru dalam memaknai kemerdekaan.

Selesai

Friday, October 23, 2009

Generasi muda, generasi berkarya

Friday, October 23, 2009


Sobat muda, pernah gak kita berfikir apa yang nanti kita raih untuk masa depan? mimpi dan cita-cita atau apalah itu, asalkan jangan sampai kita bingung or nge-blank menentuan masa depan. Karena gagal merencanakan sama artinya merencanakan kegagalan. Langkah awal meraih kesuksesan adalah keberanian untuk bermimpi. Walaupun pemuda sekarang paling demen sama aktivitas nongkrong, nomat (nonton hemat), atau log-in facebook dan lain-lain. Sebenernya itu nggak masalah. Yang penting jangan sampai mendominasi hati, pikiran, dan waktu kita sehingga melupakan hal-hal penting lain dalam hidup. Coz … ada yang lebih penting yang harus digarisbawahi bahwa masa muda adalah masa pencarian jati diri. Siapa kita? Apa bakat kita?. Pemikiran kita tuh sudah harus menerawang ke arah sana . Kalau tidak, kita akan terus dililit oleh confusion yang tak berujung pangkal. Karena ternyata banyak ruang dalam diri kita yang masih kosong dan kita nggak tahu harus mengisinya dengan apa. Kasian kan ...? Padahal tak jarang pemuda diasumsikan sebagai potret negara. Artinya kualitas suatu negara akan terpandang dari sejauh mana potensi pemudanya.
Pemuda adalah bagian dari investasi Bangsa yang harus selalu mampu membawa perubahan, perkembangan dan kemajuan. Gimana tuh…, Berat juga khan jadi pemuda? Makanya dari sekarang kita rentangkan persendian otot-otot tangan dan kaki kita, baca Bismillah, dan mulai menekuri to create something out of nothing. Kreatif berkarya tentunya.




Kreatif Berkarya, Kayak Gimana?

Saat ini memang bangsa kita dalam keadaan yang kurang beruntung. Masalah nggak ada habis-habisnya terus mendera. Namun demikian, sebagai bangsa yang besar dan kaya akan sumber daya dan begitu potensial, kita nggak boleh putus asa. Kitalah generasi muda yang merupakan solusi segala macam kesulitan bangsa.
Sebenarnya bangsa kita mempunyai sumber daya manusia yang memadai dan memiliki generasi muda yang bertalenta tinggi, pintar, produktif, dan siap bersaing bukan cuma di dalam tapi juga di luar negeri. Namun, kita coba tengok sejenak mekanisme pendidikan di negeri kita ini, bahwa beberapa sistem dan pola pendidikan di Indonesia hanya membentuk peserta didik menjadi “robot” yang kuat dan pintar yang sengaja diterjunkan untuk bersaing di pasar tenaga. Hal ini jelas akan memasung daya kreasi sehingga banyak yang mengalami kemandegan gagasan. Padahal nih, seharusnya pendidikan yang harus diterapkan di bumi pertiwi ini, mampu mencetak pemuda-pemuda yang karena penelitian. Bukan karena doktrin yang ditanamkan.
Kita lihat prestasi yang diraih oleh Masruri yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata internasional menjuarai catur tingkat ASEAN tahun 2007 dan hebatnya lagi sobat muda, dia termasuk 10 besar terbaik pecatur cilik dunia lho. Atau nggak salahnya kita lihat kesuksesan para pemuda yang udah berkarya di negara lain. India misalnya, para pemudanya mampu mencetak prestasi dalam bidang perfileman. Mereka menghasilkan 877 film dan 1.117 film pendek tahun 2003. dan film-filmnya itu diperkirakan mampu menarik penonton sebanyak 3,6 miliar orang pertahun atau satu miliar orang lebih banyak dari film produksi Holywood. Nurul, pemuda asal Indonesia tercatat sebagai salah satu ilmuwan di Jepang yang secara produktif telah berinovasi dalam bidang nano teknologi. Amazing banget khan..?
Beberapa cotoh itu kiranya cukup memberikan menstimulasi kita, kaum pemuda untuk mulai berfikir kreatif dan berkarya nyata. Amati hal terdekat yang dapat kita ciptakan. Manfaatkan peluang. Tulis dan laksanakan seluruh agenda harian kita, apa yang akan kita lakukan hari ini, kita mesti rencanakan sevelumnya. Ide bisa kita dapatkan di sekolah, di perpustakaan, di masjid, di jalan, di mall, di pasar, di gunung, di laut, dan dimana-mana.



Antara Berkarya dan Pondok Kita
Trus, gimana dengan kita yang ada di pondok? It’s okay!!. Banyak kegiatan ekskul dan lapangan pekerjaan yang siap memfasilitasi produktivitas kita di pesantren. Keberadaan pabrik roti, perusahaan air minum, pabrik tahu tempe , pelatihan jurnalistik dan koresponden, percetakan dan masih banyak lagi yang sudah cukup menjadi sarana transformasi bakat dan kreatifitas kita. Tinggal kita yang harus pintar-pintar menentukan prioritas. Jangan sampai karena semangat membara semata, trus ngambil tindakan gegabah dengan merangkulnya sekaligus. Hasilnya…bisa jadi malah berantakan.
Last but not least! sobat muda, biasanya kita udah mengkonsep rencana sematang mungkin, namun karena kita masih belum bisa menghilangkan tradisi ‘menunda’ yang ada malah rencana tinggallah rencana. Janji tak pernah sampai pada tahap realisasi. Itulah kita kebanyakan, terlalu muluk-muluk dalam berprinsip namun lemah melawn segala bentuk kemalasan. Ingat orang pintar adalah orang yang melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang bodoh hari ini. Tak ada waktu yang lebih tepat untuk memulai selain saat ini. Berkarya…yuuu…kk!!
 
PernAk PerNik HidUpKoe. Design by Pocket